Breaking! IHSG Dibuka Anjlok 1% Lebih Balik ke Level 5.700

Redaksi, CNBC Indonesia
Selasa, 30/06/2026 09:06 WIB
Foto: Pengunjung mengamati layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (4/6/2026). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melemah pada perdagangan Selasa (30/6/2026), melanjutkan tren koreksi yang telah terjadi semenjak pekan lalu.

Pada pembukaan perdagangan pukul 09.00 WIB, IHSG turun 0,33% atau terkoreksi 19,33 poin ke level 5.801,45.

Nilai transaksi tercatat mencapai sekitar Rp 316,02 miliar dengan volume perdagangan 164,68 juta saham yang diperdagangkan dalam 21.343 kali transaksi. Sebanyak 168 saham menguat, 90 saham melemah, sementara 298 saham bergerak stagnan.

Beberapa menit setelah pasar buka, IHSG tercatat malah turun semakin dalam ke zona merah dan terkoreksi hingga 1,54% dan menyentuh level psikologis 5.731.

Adapun emiten dengan nilai transaksi terbesar pada awal perdagangan hari ini adalah BBCA, BBRI, BMRI, DSSA dan MAPI.


Pasar keuangan Indonesia akan menutup perdagangan pada paruh pertama atau semester I tahun ini pada hari ini. Menjelang semester II, bursa saham diharapkan sudah bangkit.

Meredanya ketegangan perang, melandainya dolar AS dan imbal hasil US Treasury serta jaminan pemerintah mengenai defisit APBN akan menjadi sentimen positif buat rupiah dan IHSG. Namun, rilis data pekerjaan AS yakni JOLTs bisa menjadi sandungan bagi IHSG dan rupiah. Jika datanya menguat maka The Fed dikhawatirkan akan semakin hawkish.

Terkait update perang, tim negosiasi Amerika Serikat (AS) dan Iran semula dijadwalkan bertemu di Doha pekan ini. Namun, Iran menegaskan belum ada agenda perundingan dengan AS, meski kedua negara sama-sama mengirim delegasi ke Qatar.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengatakan delegasi teknis Iran yang berangkat ke Qatar tidak terkait dengan kunjungan utusan AS, Jared Kushner dan Steve Witkoff. "Kami tidak akan menggelar perundingan dengan pihak AS dalam beberapa hari ke depan," ujarnya.

Perbedaan pernyataan tersebut mencerminkan rapuhnya kesepakatan gencatan senjata yang dicapai pada 17 Juni untuk menghentikan perang yang telah berlangsung empat bulan. Konflik itu sempat mengganggu lalu lintas minyak dunia di Selat Hormuz dan menjadi tekanan politik bagi Presiden AS Donald Trump menjelang pemilu Kongres November.

Berdasarkan nota kesepahaman (MoU), kedua negara memiliki waktu sedikitnya 60 hari untuk membahas program nuklir Iran, cadangan uranium yang diperkaya tinggi, serta menyusun gencatan senjata permanen. Namun, proses negosiasi berjalan lambat karena kedua pihak saling menuduh melanggar kesepakatan.

Sementara itu, dari dalam negeri Pimpinan DPR bersama jajaran pemerintah menggelar rapat koordinasi bidang ekonomi serta upaya penguatan fiskal dan moneter sebagai respons dan antisipasi terhadap perkembangan ekonomi dan geopolitik global

Rapat dipimpin Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad, didampingi para Wakil Ketua DPR Saan Mustopa, Cucun Ahmad Syamsurijal, dan Sari Yuliati. Turut hadir Ketua Badan Anggaran DPR Said Abdullah, Ketua Komisi XI DPR Mukhamad Misbakhun, serta Wakil Ketua Komisi I DPR Budi Djiwandono.

Dari unsur pemerintah, rapat dihadiri Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, Wakil Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Mari Elka Pangestu, Deputi Gubernur Bank Indonesia Thomas Djiwandono, serta Ricky Perdana Gozali.

Menurut Dasco, pertemuan tersebut difokuskan pada upaya menjaga momentum pertumbuhan ekonomi sekaligus merumuskan langkah mitigasi terhadap berbagai tantangan yang belakangan muncul. "Rapat koordinasi untuk pertumbuhan ekonomi sekaligus juga rapat untuk mitigasi beberapa hal yang terjadi belakangan ini," ujar Dasco dalam konferensi pers di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Senin (29/6/2026).

Lalu ada Indeks Dolar melemah ke 101,1 pada Senin kemarin, terendah dalam lima hari terakhir. Melemahnya indeks menandai investor tengah menjual aset dolar mereka. Kondisi ini diharapkan menjadi kabar baik bagi rupiah karena ada potensi inflow dari investor asing ke mata uang Garuda.

Sementara itu, bursa saham Asia-Pasifik dibuka mayoritas menguat pada perdagangan Selasa (30/6/2026), mengikuti reli yang terjadi di Wall Street pada sesi sebelumnya.

Melansir CNBC, sentimen pasar terdorong oleh meredanya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran yang meningkatkan optimisme investor global.

Di Jepang, indeks Nikkei 225 naik 1,41% pada awal perdagangan, sementara Topix menguat 0,88%. Di Korea Selatan, indeks Kospi bertambah 1,17%, sedangkan indeks saham berkapitalisasi kecil Kosdaq justru turun 0,88%.

Sementara itu, indeks acuan Australia, S&P/ASX 200 bergerak cenderung datar. Pelaku pasar juga mencermati sejumlah data ekonomi penting dari Amerika Serikat yang akan dirilis pada hari ini.

Di Wall Street, ketiga indeks utama ditutup menguat pada perdagangan Senin waktu setempat. Indeks S&P 500 naik 1,18%, sedangkan Nasdaq Composite melesat 2,07%.

Adapun indeks Dow Jones Industrial Average melonjak 306,63 poin atau 0,59% dan ditutup di atas level 52.000 untuk pertama kalinya dalam sejarah. Kenaikan indeks didukung oleh lonjakan hampir 5% saham Alphabet pada hari pertama perdagangan perusahaan tersebut sebagai anggota baru Dow Jones.


(fsd/fsd) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Rupiah Melemah & IHSG Anjlok Lebih 2%, Sentimen Ini Jadi Sebab!