Rupiah Menguat 0,39%, Nilai Tukar Dolar AS Turun ke Rp17.835

Elvan Widyatama, CNBC Indonesia
Senin, 29/06/2026 15:03 WIB
Foto: Karyawan menghitung uang pecahan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing, Jakarta, Jumat (24/4/2026). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah berhasil mengakhiri perdagangan awal pekan ini di zona hijau terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Di tengah koreksi yang tengah terjadi pada pergerakan indeks dolar AS. 

Merujuk data Refinitiv, mata uang Garuda pada penutupan perdagangan Senin (29/6/2026) ditutup menguat 0,39% ke posisi Rp17.835/US$. 


Sepanjang perdagangan hari ini, rupiah solid berada di zona penguatan sejak pagi tadi. Kurs rupiah bergerak di rentang level Rp17.825 - Rp880 per dolar sampai akhir perdagangan. 

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) per pukul 15.00 WIB terpantau mengalami tekanan dengan terkoreksi 0,15% ke level 101,203. 

Penguatan rupiah pada perdagangan hari ini terjadi di tengah terkoreksinya dolar AS di pasar global. Pelemahan tersebut memberi ruang bagi sejumlah mata uang negara lain, termasuk rupiah, untuk bergerak positif.

Meski demikian, posisi dolar AS masih relatif kuat. Greenback masih berada di tren penguatan bulanan terbesar dalam hampir setahun, ditopang ketegangan di kawasan Teluk, imbal hasil surat utang AS yang masih tinggi, serta sikap hati-hati pelaku pasar menjelang rilis data tenaga kerja Amerika Serikat pada pekan ini.

Dari sisi geopolitik, Amerika Serikat dan Iran kembali saling melontarkan pernyataan keras pada akhir pekan lalu.

Namun, kedua negara tersebut kemudian sepakat menghentikan serangan balasan dan dijadwalkan bertemu di Qatar pada Selasa. Kondisi ini membuat pelaku pasar masih mencermati keberlanjutan gencatan senjata tersebut.

Dari dalam negeri, para pimpinan DPR pada Senin (29/6/2026) menggelar pertemuan dengan sejumlah pejabat yang bertanggung jawab menjaga stabilitas dan pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Pertemuan tersebut dihadiri Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco, Ketua Komisi XI Mukhamad Misbakhun, Ketua Banggar Said Abdullah, Wakil Menteri Keuangan Juda Agung, Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti, serta Wakil Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Mari Elka Pangestu.

Wakil Ketua DEN Mari Elka Pangestu mengatakan menjaga stabilitas makro ekonomi dalam jangka pendek menjadi prioritas, terutama karena gejolak harga komoditas strategis seperti minyak mentah berisiko menekan inflasi dan daya beli masyarakat.

"Ada kesepakatan saya rasa yang tercapai bahwa yang penting menjaga kestabilan makro ekonomi di jangka pendek karena kita sudah melihat dampak ketidakpastian global, misalnya harga minyak meningkat dan dampaknya ke inflasi dan daya beli di masyarakat. Sehingga ini menjadi prioritas untuk menjaga kestabilan makro," ucap Mari.

Mari juga menyoroti pentingnya menjaga kepercayaan investor, terutama karena tekanan terhadap rupiah masih perlu diwaspadai.

"Pelemahan rupiah lebih dari peers kita, berarti kita harus waspadai bagaimana menjaga issue confidence dan trust dan itu tak terlepas dari kebijakan-kebijakan yang diambil masing-masing lembaga yang bertanggung jawab," kata Mari.

Sementara itu, Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti mengatakan BI fokus menjaga kecukupan likuiditas di sistem perekonomian agar tidak terjadi gejolak di pasar uang dan pasar valas.

"Kalau kita lihat di akhir bulan Mei ekspansi yang kami lakukan sekitar Rp600 triliun maka di akhir bulan Juni ini kami sudah melakukan ekspansi hingga Rp1.000 triliun, khusus itu untuk menjaga likuiditas agar tidak terjadi gejolak harga di pasar uang dan pasar valas kita," kata Destry.

Untuk menjaga stabilitas kurs, BI juga telah menyesuaikan arah kebijakan moneter dengan menaikkan BI Rate sebesar 100 basis poin dalam sebulan terakhir hingga berada di level 5,75%.

Selain itu, BI juga menyesuaikan harga instrumen operasi moneter untuk menarik aliran modal asing masuk ke pasar keuangan domestik. Destry menyebut aliran dana asing ke instrumen SBN dan SRBI sepanjang tahun berjalan hingga 26 Juni telah mencapai sekitar US$9 miliar.

"Dalam satu bulan di bulan Juni ini telah terjadi inflow yang cukup signifikan sehingga secara year to date dari Januari hingga 26 Juni, inflow yang masuk untuk di portofolio SBN dan SRBI kita itu sudah mencapai sekitar 9 miliar USD," paparnya.


(evw/evw) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Rupiah Melemah Parah, Begini Proyeksi Dolar AS Ke Depan