RI Mau Kurangi Ketergantungan Dolar, Kantor Purbaya Ungkap Alasannya

chd, CNBC Indonesia
Jumat, 26/06/2026 10:10 WIB
Foto: Menteri Keuangan RI, Purbaya Yudhi Sadewa dalam Economic Update, CNBC Indonesia, Rabu (24/06/2026). (CNBC Indonesia TV)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mengungkapkan pemerintah berupaya untuk mengurangi ketergantungan dengan dolar Amerika Serikat (AS) dengan cara melakukan diversifikasi pembiayaan ke mata uang lainnya.

Plt. Direktur Jenderal Stabilitas dan Pengembangan Sektor Keuangan (DJSPSK) Herman Saheruddin mengatakan diversifikasi pembayaran harus dilakukan agar Indonesia tidak terlalu bergantung dengan dolar AS, sehingga ketika dolar mengalami penguatan kencang tidak membebani APBN terlalu besar.


"Sekarang kita melakukan diversifikasi pembiayaan. Kalau kita terlalu banyak tergantung dari dolar AS, akan membebani APBN kita, karena dolar kan mata uang yang anomali. Jadi artinya kalau kita hanya bergantung pada dolar, saya pikir akan menjadi kurang stabil," kata Herman saat ditemui wartawan di kantornya, Kamis (25/6/2026).

Salah satu diversifikasi yakni dengan renminbi atau dikenal dengan yuan, mata uang China. Kemenkeu pun akan menerbitkan surat utang berdenominasi yuan atau Panda Bond untuk memperkuat diversifikasi ini.

"Alasan penerbitan Panda Bond ya untuk mencari sumber pembiayaan yang lain atau dapat dikatakan diversifikasi. Jadi dengan adanya diversifikasi ini, harapannya adalah risiko beban APBN kita dari pembiayaan utang yang bersumber dari risiko nilai tukar itu dapat didiversifikasi, dan kita bisa mengurangi dampak dari ketergantungan dolar AS," jelasnya.

Herman memandang China menjadi salah satu negara yang dapat membantu diversifikasi pembiayaan, karena peringkat surat utang ini masih mencerminkan fundamental Indonesia.

"China itu adalah salah satu dari beberapa negara yang tertarik untuk melakukan pembiayaan ke Indonesia dengan membeli surat utang kita dengan pricing yang make sense, artinya tidak jauh dari fundamental kita," katanya lagi.

Meski pemerintah terus melakukan diversifikasi dengan mata uang lainnya, namun pihaknya menjelaskan upaya untuk menghilangkan ketergantungan dolar, butuh waktu cukup lama karena dolar AS sendiri masih diterima banyak negara.

"Tapi kalau hilangkan dolar AS sama sekali, ya enggak mungkin dilakukan dalam waktu pendek atau menengah, karena dolar masih diterima sebagai mata uang yang diterima di banyak negara, hard currency lah istilahnya," terangnya.


(chd/haa) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Persiapkan Panda Bond, Purbaya ke China Temui Menkeu China & Investor