Nilai Tukar Rupiah Ditutup Loyo, Dolar AS Kini Naik ke Rp17.925

Elvan Widyatama, CNBC Indonesia
Rabu, 24/06/2026 15:03 WIB
Foto: Petugas menjunjukkan uang pecahan dolar AS dan rupiah di Dolarindo Money Changer, Jakarta, Selasa (8/4/2025). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah kembali mengakhiri perdagangan hari ini, Rabu (24/6/2026), dengan koreksi dalam terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Tekanan terjadi di tengah tren penguatan dolar AS di pasar global.

Merujuk data Refinitiv, rupiah harus rela parkir di zona merah setelah ditutup melemah 0,50% ke level Rp17.925/US$. Dengan posisi tersebut, mata uang Garuda belum mampu keluar dari tekanan dan sudah melemah selama empat hari perdagangan beruntun.


Sepanjang perdagangan hari ini, rupiah bergerak di rentang Rp17.900-Rp17.955/US$. Pergerakan tersebut membuat rupiah kembali panas karena semakin dekat dengan level psikologis Rp18.000/US$.

Di sisi lain, indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, per pukul 15.00 WIB terpantau menguat 0,14% ke level 101,547.

Menguatnya dolar AS di pasar global masih menjadi faktor utama yang menekan nilai tukar rupiah. Penguatan greenback membuat ruang gerak mata uang negara lain, termasuk rupiah, semakin terbatas.

Dolar AS terus menguat hingga berada di level tertinggi dalam lebih dari setahun. Penguatan tersebut terjadi seiring penyesuaian ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan bank sentral AS atau The Federal Reserve (The Fed) yang dinilai semakin hawkish.

Rapat kebijakan The Fed atau Federal Open Market Committee (FOMC) pekan lalu, yang menjadi rapat pertama di bawah Ketua The Fed Kevin Warsh, dibaca pasar sebagai sinyal bahwa bank sentral AS masih membuka ruang kenaikan suku bunga pada tahun ini.

Ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pun meningkat tajam. Berdasarkan CME FedWatch, peluang kenaikan suku bunga minimal 25 basis poin pada rapat Juli naik menjadi 36,3%, dari sebelumnya 8,5% sepekan lalu. Sementara itu, peluang kenaikan suku bunga pada rapat September naik menjadi 69,1%, dari sebelumnya 29,1% sepekan sebelumnya.

Dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) terus berupaya menstabilkan rupiah sembari mendukung langkah pemerintah menjaga ekonomi Indonesia agar tetap tumbuh kuat. BI juga mengajak masyarakat untuk ikut menjaga kestabilan rupiah dengan menggunakan rupiah sebagai alat transaksi utama di dalam negeri.

Hal ini disampaikan Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti dalam Economic Update CNBC Indonesia 2026.

"Rupiah itu kan mata uang kita bersama, jadi tentunya untuk menjaga stabilitas rupiah itu enggak bisa hanya BI sendiri, tentu saya juga ingin mengajak semua masyarakat, semua bangsa Indonesia untuk kita bersama-sama menjaga rupiah," kata Destry, dikutip Rabu (24/6/2026).

Untuk menjaga stabilitas kurs, BI telah mengeluarkan sejumlah kebijakan baru. Salah satunya adalah menurunkan ambang batas pembelian valuta asing tunai tanpa dokumen pendukung atau underlying dari sebelumnya US$25.000 menjadi US$10.000 per pelaku per bulan.

Namun, Destry menegaskan kebijakan tersebut dilakukan untuk memperbaiki tata kelola, bukan untuk melarang penggunaan dolar AS di dalam negeri.

"Bagaimana kami menata ulang permintaan terhadap rupiah. Kami tidak bermaksud untuk membatasi penggunaan dolar AS, tapi harus ada underlyingnya, kalau tidak ada underlyingnya, itu nanti kan menjadi spekulatif," jelasnya.

Destry juga mengajak masyarakat untuk terus menggunakan rupiah di dalam negeri sebagai bentuk dukungan terhadap stabilitas mata uang Garuda.


(evw/evw) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: The Fed Diramal Tahan Suku Bunga, IHS & Rupiah Kembali Anjlok