Demam AI Bikin Konglo Teknologi Dunia Makin Kaya, Ini Buktinya
Jakarta, CNBC Indonesia - Euforia kecerdasan buatan (AI) kembali memicu perdebatan di Wall Street. Kali ini bukan soal kecanggihan teknologi, melainkan bagaimana konglomerat pemilik perusahaan-perusahaan teknologi memanfaatkan lonjakan harga saham mereka untuk menggalang dana dan melakukan akuisisi.
Mengutip Wall Street Journal, salah satu contoh paling mencolok datang dari Elon Musk. Ketika investor mendorong valuasi perusahaan karena ekspektasi besar terhadap AI, Musk justru memanfaatkan saham yang mahal tersebut untuk memperkuat posisinya di industri.
"Apa yang harus Anda lakukan jika investor menaikkan harga saham Anda berdasarkan asumsi bahwa Anda akan menjadi pemenang dalam kecerdasan buatan, tetapi produk Anda tidak populer? Elon Musk punya jawabannya: Gunakan saham Anda yang mahal untuk membeli bisnis AI lain," tulis James MackIntosh dalam Wall Street Journal, dikutip Selasa (23/6/2026).
Melalui transaksi saham senilai US$60 miliar untuk mengakuisisi Cursor, asisten pemrograman yang populer berkat tren "vibe-coding", Musk memperoleh pijakan yang lebih kuat di pasar AI korporasi. Langkah itu dinilai menjadi cara cepat memasuki segmen yang belum berhasil ditembus chatbot Grok.
Namun di balik transaksi spektakuler tersebut, muncul sinyal yang layak dicermati investor. Ketika harga saham melonjak sangat tinggi, perusahaan memiliki insentif besar untuk menerbitkan saham baru karena biaya pendanaannya menjadi relatif murah dibandingkan menggunakan utang.
Secara teori, perusahaan dapat membiayai ekspansi melalui utang atau ekuitas. Saat suku bunga rendah, utang menjadi pilihan menarik. Sebaliknya, ketika valuasi saham melonjak, menerbitkan saham baru menjadi opsi yang lebih menguntungkan.
Wall Street Journal mengingatkan bahwa keputusan perusahaan untuk menjual saham sering kali mencerminkan pandangan manajemen terhadap valuasi pasar. Konsep ini sejalan dengan pemikiran investor legendaris Benjamin Graham mengenai "Mr. Market".
Graham menganggap 'Mr. Market' sebagai sosok yang mengalami gangguan bipolar, menawarkan harga harian kepada investor-kadang-kadang terlalu tinggi (Anda harus menjual) dan kadang-kadang terlalu rendah (Anda harus membeli). Menurut Graham, ketika perusahaan memilih menerbitkan saham, pada dasarnya mereka sedang memanfaatkan harga yang dianggap menarik untuk menjual sebagian kepemilikannya kepada investor.
Fenomena tersebut pernah terjadi pada dua periode paling spekulatif dalam sejarah pasar modal modern, yakni gelembung dot-com pada akhir 1990-an dan demam SPAC setelah pandemi Covid-19. Pada periode tersebut, perusahaan berbondong-bondong melakukan IPO, menerbitkan saham baru, serta melakukan akuisisi menggunakan saham sebagai alat pembayaran.
Kini pola serupa kembali terlihat. Nilai merger dan akuisisi (M&A) di Amerika Serikat dalam empat kuartal terakhir bahkan telah melampaui periode-periode sebelumnya. Menurut data LSEG yang dikutip Wall Street Journal, hampir setengah pembiayaan transaksi M&A pada kuartal berjalan berasal dari penerbitan saham.
Kondisi tersebut menunjukkan tingginya permintaan investor terhadap saham-saham yang terkait AI. Namun di saat bersamaan, pasokan saham baru juga meningkat karena perusahaan memanfaatkan momentum tersebut untuk mengumpulkan dana.
Wall Street Journal menilai keputusan pendanaan korporasi dapat menjadi indikator yang lebih jujur dibandingkan sejumlah rasio valuasi konvensional. Rasio seperti price-to-earnings (P/E), price-to-book value (PBV), maupun price-to-sales sering kali dipengaruhi asumsi pertumbuhan yang berubah-ubah.
Sebagai contoh, rasio harga terhadap laba proyeksi S&P 500 saat ini berada sedikit di bawah 20 kali. Angka itu memang lebih rendah dibanding puncak 23 kali pada 2020 dan 2025, serta rekor 24,5 kali pada masa gelembung dot-com. Namun penurunan tersebut sebagian besar terjadi karena analis memperkirakan laba perusahaan akan tumbuh pesat pada masa mendatang.
Yang menjadi perhatian utama, menurut Wall Street Journal, bukan sekadar tingginya valuasi, melainkan derasnya arus dana yang masuk ke sektor AI. Setidaknya menurut pandangan MackIntosh, adalah ketika terjadi banjir penggalangan dana, utang atau ekuitas atau keduanya.
Jika banyak perusahaan mengumpulkan modal untuk mengejar peluang yang sama, terdapat tiga kemungkinan. Pertama, pasar AI memang cukup besar untuk menyerap seluruh investasi tersebut dan tetap menghasilkan keuntungan besar. Kedua, peluangnya nyata tetapi persaingan yang terlalu ketat akan menggerus margin keuntungan sehingga menghancurkan nilai ekonomi.
Skenario ketiga menjadi yang paling dikhawatirkan, yakni bahwa perusahaan mengumpulkan dan menghabiskan begitu banyak dana hanya karena pemegang saham mendukung mereka, dan klaim AI hanyalah sesuatu yang dilebih-lebihkan.
Kekhawatiran itu mengingatkan pada era dot-com, ketika perusahaan berlomba menghabiskan dana investor demi mengejar pertumbuhan tanpa model bisnis yang jelas. Pada akhirnya, banyak perusahaan gagal memenuhi ekspektasi dan menghanguskan nilai investasi pemegang saham.
"Bahayanya adalah hal itu akan berakhir seperti perusahaan dot-com. Saat itu, seperti sekarang, perusahaan berlomba-lomba untuk menghabiskan sebanyak mungkin dana secepat mungkin dan 'tingkat pengeluaran' dianggap positif-sampai akhirnya semua uang pemegang saham lenyap begitu saja," ujar MackIntosh.
(ayh/ayh) Add
source on Google