KOSPI Korea Anjlok 10%, Gelembung AI-Teknologi Pecah?

Mentari Puspadini, CNBC Indonesia
Selasa, 23/06/2026 14:12 WIB
Foto: Seorang pedagang mata uang berjalan melewati papan elektronik yang menampilkan Indeks Harga Saham Gabungan Korea (KOSPI) dan nilai tukar antara dolar AS dan won Korea Selatan di ruang perdagangan sebuah bank di Seoul, Korea Selatan, 3 Maret 2026. (REUTERS/Kim Hong-Ji)

Jakarta, CNBC Indonesia - Bursa saham Korea Selatan terkoreksi tajam pada perdagangan Senin (23/6/2026) setelah kekhawatiran terhadap kemampuan monetisasi kecerdasan buatan (AI) oleh perusahaan teknologi besar di Amerika Serikat memicu aksi jual di pasar global. Indeks KOSPI yang sebelumnya mencatat reli kuat akhirnya kembali tertekan dan jatuh di bawah level psikologis 9.000 poin.

Berdasarkan data Korea Exchange (KRX), KOSPI dibuka di level 9.083,54 atau turun 31,01 poin (0,34%) dibandingkan penutupan sebelumnya di 9.114,55. Tekanan jual yang muncul sejak awal perdagangan membuat indeks semakin melemah hingga menyentuh 8.203 atau anjlok 10%.


Melansir Business Korea, pelemahan juga terjadi pada indeks KOSDAQ yang didominasi saham teknologi dan pertumbuhan, seiring merosotnya sentimen investor akibat kejatuhan indeks Nasdaq di Wall Street.

Arah pasar pada perdagangan hari ini ditentukan oleh aksi jual agresif investor asing dan institusi. Koreksi tajam saham-saham teknologi besar di Amerika Serikat mendorong pelaku pasar mengurangi eksposur terhadap aset berisiko dan merealisasikan keuntungan di pasar domestik.

Investor asing tercatat menjadi penekan utama pasar dengan nilai jual bersih mencapai 1,18 triliun won hingga 1,8 triliun won pada awal sesi perdagangan. Sementara itu, investor institusi turut melepas saham senilai 65 miliar won hingga 205 miliar won sehingga mempercepat penurunan indeks.

Aktivitas perdagangan program juga menunjukkan dominasi aksi jual dengan nilai lebih dari 1,67 triliun won. Tekanan tersebut membuat pasar kesulitan mempertahankan level 9.000 poin yang selama ini menjadi area penopang psikologis.

Di tengah tekanan tersebut, investor ritel menjadi satu-satunya kelompok yang aktif melakukan pembelian. Investor individu membukukan pembelian bersih antara 1,24 triliun won hingga 1,97 triliun won dengan memanfaatkan koreksi pasar untuk melakukan akumulasi saham.

Meski demikian, besarnya aksi beli investor ritel belum mampu mengimbangi gelombang jual dari investor asing dan institusi. Upaya menopang pasar tersebut hanya berhasil memperlambat laju penurunan indeks dalam perdagangan pagi.

Perhatian pasar juga tertuju pada dua raksasa semikonduktor Korea Selatan, Samsung Electronics dan SK hynix. Keduanya menjadi sorotan setelah SK hynix untuk pertama kalinya dalam sekitar 25 tahun melampaui Samsung Electronics dalam kapitalisasi pasar saham biasa.

Saham Samsung Electronics dibuka melemah 0,57% ke level 351.500 won dan terus tertekan hingga turun 12,31% jelang penutupan perdagangan. Di sisi lain, SK hynix sempat menguat 0,31% berkat kenaikan indeks semikonduktor Philadelphia dan lonjakan saham Micron di Amerika Serikat, sebelum akhirnya berbalik anjlok 12,47% mengikuti pelemahan pasar secara keseluruhan.

Sebagian pelaku pasar mulai membandingkan fenomena naiknya SK hynix ke posisi teratas kapitalisasi pasar dengan peristiwa pada era gelembung dot-com tahun 2000 ketika Cisco sempat melampaui Microsoft sebelum pasar mengalami koreksi besar. Namun, sejumlah analis menilai kondisi saat ini berbeda karena reli sektor AI masih didukung pertumbuhan laba yang kuat.

Analis Kiwoom Securities Han Ji-young menilai fokus investor seharusnya tidak hanya tertuju pada pergantian posisi kapitalisasi pasar terbesar. Menurutnya, faktor yang lebih penting adalah apakah kenaikan harga saham didorong oleh valuasi yang berlebihan atau peningkatan fundamental laba perusahaan.

Di tengah pelemahan sektor semikonduktor, sejumlah saham yang diuntungkan program peningkatan nilai perusahaan dan saham baterai justru mencatat penguatan. LG Energy Solution naik 2,59%, Samsung Life Insurance melonjak 5,44%, Samsung C&T menguat 3,46%, dan HD Hyundai Heavy Industries bertambah 2,52%.

Sebaliknya, saham Hyundai Motor turun 0,86% akibat aksi ambil untung investor asing. Tekanan jual muncul setelah saham tersebut mencatat kenaikan signifikan dalam beberapa waktu terakhir sehingga memicu kekhawatiran terhadap valuasi.

Koreksi pasar Korea Selatan terjadi setelah pergerakan bursa Amerika Serikat yang beragam pada perdagangan sebelumnya. Indeks Dow Jones masih mampu menguat 0,29% ke 51.712,71, namun Nasdaq anjlok 1,33% ke 26.166,60 dan S&P 500 turun 0,37% ke 7.472,79.

Pelemahan Nasdaq dipicu kekhawatiran investor terhadap efektivitas belanja modal AI yang sangat besar di perusahaan teknologi raksasa. Alphabet tercatat merosot 4,99%, sementara SpaceX anjlok 16,43% setelah muncul kabar penerbitan obligasi korporasi dalam jumlah besar.

Dari pasar valuta asing, nilai tukar won Korea terhadap dolar AS juga mengalami tekanan. Kurs won dibuka melemah ke level 1.539,4 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di 1.537 won dan terus bergerak di kisaran tinggi 1.530 won sepanjang sesi.

Penguatan dolar AS dipicu ekspektasi bahwa Federal Reserve akan tetap mempertahankan kebijakan moneter yang ketat. Tingginya kurs dolar meningkatkan risiko kerugian nilai tukar bagi investor asing sehingga mendorong arus keluar dana dari pasar saham Korea Selatan.

Sementara itu, harga komoditas bergerak melemah setelah muncul perkembangan positif dalam negosiasi lanjutan pascakonflik antara Amerika Serikat dan Iran. Meredanya risiko geopolitik mengurangi permintaan aset aman sehingga harga minyak dan emas terkoreksi.

Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak Juli turun 2,32% menjadi US$74,82 per barel, level terendah sejak Maret lalu. Penurunan ini dipicu ekspektasi peningkatan pasokan minyak Iran ke pasar global.

Di pasar logam mulia, harga emas berjangka turun 1,10% menjadi US$4.199,10 per ons. Penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS menjadi faktor utama yang menekan harga emas.

Secara keseluruhan, pasar saham Korea Selatan saat ini menghadapi tekanan dari kombinasi kekhawatiran monetisasi AI di sektor teknologi Amerika Serikat, penguatan dolar AS, dan aksi jual investor asing. Meski demikian, sejumlah analis menilai koreksi ini masih merupakan fase konsolidasi setelah reli tajam dan belum mengindikasikan perubahan tren jangka panjang.


(fsd/fsd) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: BI Rate Naik Lagi, Rupiah Melemah ke Rp 17.800 per Dolar AS