IHSG Sesi I Terkoreksi 1,29%, Investor Tunggu Putusan MSCI
Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah pada perdagangan Selasa (23/6/2026), di tengah sikap hati-hati pelaku pasar yang masih menunggu pengumuman MSCI besok.
IHSG penutupan perdagangan sesi pertama IHSG anjlok 1,29% atau melemah 79,17 poin ke level 6.037,52. Pada perdagangan intraday sesi 1 IHSG sempat tertekan lebih dalam ke level 6.030,09.
Nilai transaksi jelang akhir perdagangan sesi pertama tercatat mencapai Rp 6,65 triliun dengan volume 11,45 miliar saham yang berpindah tangan dalam 1,02 juta kali transaksi. Sebanyak 221 saham menguat, 437 saham melemah, dan 152 saham bergerak stagnan.
Adapun emiten yang paling ramai ditransaksikan hari ini adalah DSSA, TPIA, BBCA, BBRI dan BMRI.
Mayoritas sektor perdagangan melemah dengan koreksi paling dalam dicatatkan oleh sektor energi yang tertekan 4,7%. Sektor lain yang ikut tertekan dalam termasuk finansial dan konsumer.
Secara spesifik, saham Bayan Resources (BYAN) yang kemarin masuk ex-date dividen menjadi pemberat utama kinerja IHSG dengan kontribusi pelemahan 21,46 indeks poin. Emiten lain yang ikut membebani kinerja IHSG termasuk SMMA, BBCA dan BMRI.
Sebagaimana pengumuman MSCI Classification dijadwalkan pada 24 Juni 2026. Pelaku pasar menanti nasib pasar Indonesia apakah akan tetap berstatus Emerging Market (EM) atau turun menjadi Frontier Market.
Selain itu, sejumlah sentimen penting diperkirakan akan mewarnai pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Selasa (23/6/2026). Sentimen positif datang dari meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang memicu penurunan harga minyak dunia, stimulus ekonomi pemerintah hingga rencana diversifikasi pembiayaan negara melalui penerbitan Panda Bond.
Kabar paling positif bagi pasar datang dari perkembangan hubungan Amerika Serikat (AS) dan Iran. AS resmi melonggarkan sanksi terhadap Iran selama 60 hari setelah putaran awal perundingan damai menunjukkan kemajuan signifikan.
Respons pasar berlangsung cepat. Harga minyak Brent untuk pengiriman Agustus ditutup turun 3,31% ke level US$77,90 per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melemah 2,32% menjadi US$74,82 per barel.
Penurunan harga minyak menjadi sentimen positif bagi Indonesia sebagai negara net importir minyak. Harga energi yang lebih rendah berpotensi mengurangi tekanan inflasi, menjaga stabilitas rupiah, serta memperbaiki prospek fiskal pemerintah.
Dari dalam negeri, pemerintah juga baru mengumumkan paket stimulus ekonomi semester II-2026 senilai Rp26,34 triliun. Stimulus tersebut mencakup bantuan pangan, program magang nasional, diskon transportasi, subsidi tiket pesawat, hingga insentif bagi sektor industri.
Paket stimulus tersebut diharapkan mampu menjaga daya beli masyarakat sekaligus menopang pertumbuhan ekonomi di tengah ketidakpastian global.
Selain itu, pasar juga mencermati rencana pemerintah menerbitkan Panda Bond atau surat utang berdenominasi yuan China. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyebut skema tersebut dapat mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dan membantu meredam tekanan terhadap rupiah melalui mekanisme transaksi mata uang lokal atau Local Currency Transaction (LCT).
(fsd/fsd) Add
source on Google