Telkom Siapkan Dana Segini untuk Bangun Jaringan hingga Data Center

Khoirul Anam, CNBC Indonesia
Senin, 22/06/2026 19:57 WIB
Foto: CNBC Indonesia TV

Jakarta, CNBC Indonesia - PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (Telkom) telah menyiapkan Capex (Capital Expenditure) atau belanja modal sebesar Rp =27 triliun hingga Rp28 triliun untuk membangun berbagai proyek, salah satunya jaringan internet 5G.

Direktur Utama PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk Dian Siswarini menyebut bahwa dana tersebut akan diambil perusahaan sebesar 17% hingga 19% dari revenue.

"Jadi sekarang ini yang pertama tentu Telkomsel ya, karena Telkomsel ini kan masih merupakan kontributor terbesar, 70% dari revenue Telkomsel," ungkap dia dalam Economic Update 2026 CNBC Indonesia dengan tema "Capaian Kinerja dan Arah Penguatan Program Prioritas Kementerian", Senin (22/6/2026).


Selain itu lanjutnya, dana tersebut juga akan digunakan perusahaan untuk membangun Fiber to the Home (FTTH) milik Indihome. Belanja modal juga diperuntukkan memperkuat backbone fiber optic Telkom.

"Sehingga semua pulau itu bisa dijangkau, semua kota itu juga bisa dijangkau oleh jaringan fiber optic tersebut," jelas Dian.

Terakhir belanja modal digunakan untuk kebutuhan data center. Infrastruktur ini tengah mengalami pertumbuhan di tengah kemajuan internet.

"Karena sekarang ini kondisi data center sedang booming ya, karena AI, perkembangan AI itu membuat kebutuhan terhadap data center itu luar biasa besar. Sehingga pertumbuhan data center ini juga memerlukan investasi yang lumayan tinggi," jelas Dian.

Untuk diketahui Telkom membukukan pendapatan konsolidasi sebesar Rp37,2 triliun atau tumbuh 1,5% secara year-on-year pada tiga bulan pertama 2026. Sementara EBITDA tercatat sebesar Rp18,0 triliun dengan EBITDA margin pada 48,3%.

Telkom juga mencatat laba bersih sebesar Rp4,3 triliun dengan margin laba bersih pada 11,7%. Sedangkan untuk laba bersih yang dinormalisasi sebesar Rp5,1 triliun dengan margin laba bersih yang dinormalisasi 13,8%.

Kontraksi pada laba bersih terutama dipengaruhi oleh dampak lanjutan dari percepatan depresiasi dan proses normalisasi bisnis selama fase transformasi. Namun demikian, tekanan ini bersifat transisional dan non-cash, sementara secara fundamental kinerja operasional tetap terjaga.

Arus kas operasional perseroan juga tumbuh 3,1% year-on-year menjadi Rp17,3 triliun, didorong oleh implementasi program efisiensi TOTEX serta disiplin penagihan yang semakin baik.


(dpu/dpu) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video:Persaingan Ketat Smart Home Made in Indonesia Kuasai Pasar Lokal