9 BUMN Logistik Dikonsolidasi ke PT Pos, Bidik Pasar Rp3.600 Triliun
Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah melalui BP BUMN dan BPI Danantara akan melakukan transformasi dengan melakukan konsolidasi perusahaan logistik dari sejumlah anak dan cucu perusahaan BUMN. Nantinya, perusahaan lini bisnis logistik akan bernaung di bawah PT Pos Indonesia (Persero).
Direktur Utama PT Pos Indonesia Daud Joseph mengatakan, langkah ini menjadi salah satu dari empat langkah utama dalam manajemen portofolio Danantara Aset Manajemen (DAM) dan telah masuk dalam Rencana Jangka Panjang Perusahaan (RJPP) serta menjadi program prioritas RKAP 2026.
Ia memaparkan, saat ini terdapat sekitar 15 entitas logistik BUMN yang beroperasi secara terpisah sehingga menimbulkan fragmentasi bisnis, duplikasi fungsi, dan keterbatasan skala usaha. Kondisi tersebut menyebabkan pangsa pasar BUMN logistik masih relatif kecil, yakni kurang dari 3%, meskipun memiliki aset dan jaringan yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.
"Karena mereka beroperasi sendiri-sendiri, skala usahanya juga sangat terbatas, Pak. Dari Rp 3.000 triliun market logistik, perusahaan-perusahaan ini hanya mengambil kurang dari 3%. Kecil sekali," ujarnya saar RDP dengan Komisi VI di gedung DPR RI Jakarta, Senin (22/6/2026).
"Mereka juga tumpang tindih bisnisnya, secara rute menempati rute yang sama, secara pelanggan mereka juga bersaing mengambil pelanggan yang sama, secara kapabilitas mereka juga kadang-kadang tidak bisa saling mengisi ketika ada yang penuh saat berangkat
tetapi kosong saat pulang. Sehingga masing masing bergerak di bidangnya sendiri-sendiri,"
Kenaikan peluang besar dari pertumbuhan industri logistik nasional diperkirakan mencapai sekitar 6% per tahun, khususnya pada sektor freight forwarding dan pergudangan (warehousing). Ia memaparkan, nilai pasar logistik nasional tercatat sekitar Rp2.800 triliun pada 2022, meningkat menjadi Rp2.913 triliun pada 2023 dan Rp3.048 triliun pada 2024.
Selanjutnya pasar diproyeksikan tumbuh menjadi Rp3.190 triliun pada 2025, Rp3.372 triliun pada 2026, dan mencapai Rp3.617 triliun pada 2027.
Daud menjelaskan bahwa pada 1 Juli 2026 nanti, ada 7 perusahaan logistik pelat merah akan bergabung ke dalam PT Multi Terminal Indonesia (MTI) sebagai tahap awal pembentukan holding logistik di bawah Pos Indonesia.
Ketujuh perusahaan tersebut, antara lain, PT Multi Terminal Indonesia (MTI) dan PT Prima Indonesia Logistik (PIL) yang berada di bawah Pelindo, PT Pos Logistik Indonesia (Poslog) milik Pos Indonesia, PT Sarana Bandar Logistik (SBL) milik PT Pelni, PT KBN Prima Logistik (KPL) milik Danareksa, PT Varia Usaha Dharma Segara (VUDS) dari SIG, serta PT Krakatau Jasa Logistik (KJL) yang merupakan bagian dari Krakatau Steel.
Pada tahap awal, kepemilikan sahamnya terdiri atas 73% Pelindo, 9% Pos Indonesia, dan 17% dimiliki lima perusahaan lainnya. Nantinya pada 2027, seluruh saham perusahaan akan seluruhnya berada di bawah Pos Indonesia.
Pada fase kedua, konsolidasi akan diperluas dengan memasukkan perusahaan berbasis cargo owner, yaitu PT Semen Indonesia Logistik (Silog) yang menjadi pendukung distribusi semen nasional, serta PT Pupuk Indonesia Logistik (Pilog) yang mendukung distribusi pupuk dan produk turunannya.
"Nantinya berarti sudah ada 9 BUMN logistik yang bergabung di bawah perusahaan Pos Indonesia," ucapnya.
Joseph menambahkan, dengan bergabungnya anak dan cucu entitas BUMN sektor logistik akan terjadi sinergi yang lebih luas terhadap jaringan distribusinya. Di mana perusahaan yang selama ini hanya kuat di wilayah tertentu nantinya dapat memanfaatkan jaringan perusahaan lain untuk memperluas jangkauan layanan ke berbagai daerah di Indonesia.
"Sehingga jumlahnya yang hari ini hanya ada 78 titik kumulatif, nantinya bisa bertambah menjadi sekitar 150 atau bahkan 160 lini bisnis," tambahnya.
Selain itu, konsolidasi ini juga mampu menekan biaya logistik nasional. Sebab, selama ini setiap mata rantai logistik dijalankan oleh perusahaan berbeda yang masing-masing mengambil margin keuntungan sendiri.
"Nantinya setelah digabung menjadi satu perusahaan, profit margin-nya hanya menjadi satu. Sehingga nanti akan bisa memotong duplikasi profit margin dan akan menurunkan biaya logistik secara keseluruhan. Bapak Ibu kalau kita melihat tabel paling kanan bernilai Rp 2,38 triliun, itulah nanti besarnya revenue dari perusahaan gabungan ini. Dari Rp 2,38 triliun ini akan bisa menghasilkan profit di tahun ini kira-kira sebesar Rp 100 miliar," tutupnya.
(fsd/fsd) Add
source on Google