Breaking News! Rupiah Menguat ke Rp17.750/ US$
Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah mengawali perdagangan awal pekan ini, Senin (15/6/2026), dengan penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Merujuk data Refinitiv, mata uang Garuda menguat 0,64% atau terapresiasi ke level Rp17.750/US$ pagi ini.
Penguatan ini melanjutkan kinerja positif pada perdagangan terakhir pekan lalu. Pada Jumat (12/6/2026), rupiah berhasil ditutup menguat tajam 0,61% ke posisi Rp17.865/US$.
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan dolar AS terhadap enam mata uang utama dunia, per pukul 09.00 WIB terpantau melemah 0,18% ke level 99,569.
Pergerakan rupiah pada awal pekan ini mendapatkan angin segar dari pelemahan dolar AS di pasar global.
DXY melemah seiring kabar bahwa Amerika Serikat dan Iran telah menyepakati kerangka kesepakatan damai. Kabar tersebut membuat harga minyak turun dan mendorong permintaan terhadap aset berisiko.
Pejabat AS dan Iran pada Minggu waktu setempat menyatakan kedua negara telah menyepakati kerangka untuk mengakhiri perang, menghentikan blokade AS terhadap Iran, serta membuka kembali Selat Hormuz. Harga minyak pun ikut turun, dengan Brent terkoreksi lebih dari 4% ke level US$83,82 per barel.
Meski demikian, pelaku pasar masih tetap berhati-hati. Presiden AS Donald Trump mengatakan kepada New York Times pada Minggu bahwa jika Iran gagal mencapai kesepakatan nuklir final dengan AS, maka Washington dapat kembali melancarkan serangan militer ke Teheran atau menjadikan AS sebagai "penjaga Timur Tengah" dengan imbalan 20% dari pendapatan kawasan tersebut.
Kondisi ini pada akhirnya mengurangi minat pasar terhadap dolar AS sebagai aset aman atau safe haven. Ketika permintaan terhadap dolar AS menurun, ruang penguatan bagi mata uang negara lain, termasuk rupiah, menjadi lebih terbuka.
Dari dalam negeri, sentimen positif juga datang dari penguatan kerja sama Bank Indonesia (BI) dengan bank sentral China, People's Bank of China (PBOC).
BI dan PBOC telah melaksanakan pertemuan tingkat tinggi atau high level meeting Joint Work Program pada Rabu (11/6/2026) di Shanghai, China. Pertemuan tersebut dihadiri langsung oleh Gubernur BI Perry Warjiyo dan Gubernur PBOC Pan Gongsheng.
Pertemuan tersebut menghasilkan enam poin penting. Salah satunya adalah sinergi untuk memperkuat ketahanan keuangan masing-masing negara sekaligus berkontribusi terhadap stabilitas keuangan regional yang lebih luas.
Kerja sama ini juga mendukung upaya kedua bank sentral dalam menjaga stabilitas nilai tukar.
(evw/evw) Add
source on Google