Breaking! Rupiah Menguat Hampir 1%, Dolar AS Jatuh ke Rp 17.875

Elvan Widyatama, CNBC Indonesia
Rabu, 10/06/2026 09:06 WIB
Foto: Petugas menjunjukkan uang pecahan dolar AS dan rupiah di Dolarindo Money Changer, Jakarta, Selasa (8/4/2025). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah mengawali perdagangan hari ini, Rabu (10/6/2026), di zona penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Pergerakan ini masih sejalan dengan respons pasar terhadap kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia atau BI Rate pada perdagangan sebelumnya.

Merujuk data Refinitiv, mata uang Garuda dibuka di posisi Rp17.875/US$ atauterapresiasi sebesar 0,97%. Posisi ini membuat rupiah kembali turun ke bawah level psikologis Rp18.000/US$, setelah dalam beberapa hari terakhir terus berada di area Rp18.000/US$.

Penguatan ini sekaligus melanjutkan kinerja positif rupiah pada perdagangan sebelumnya. Pada Selasa (9/6/2026), rupiah ditutup menguat 0,66% ke level Rp18.050/US$.


Sementara itu, indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, per pukul 09.00 WIB terpantau bergerak stabil di posisi 99,983. Namun, diperdagangan sebelumnya,DXY harus mengalami pelemahan 0,14% di level 99,909.

GRAFIS RUPIAH

Pelaku pasar masih merespons keputusan Bank Indonesia (BI) yang menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,50% pada Selasa (9/6/2026).

Kenaikan tersebut diputuskan dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Mingguan untuk mengevaluasi pelaksanaan bauran kebijakan yang telah ditetapkan dalam RDG Bulanan.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan kenaikan BI Rate menjadi langkah lanjutan untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah dari dampak tingginya gejolak global akibat perang di Timur Tengah. Langkah tersebut juga bersifat pre-emptive untuk menjaga inflasi 2026 dan 2027 tetap berada dalam kisaran sasaran 2,5±1% yang ditetapkan pemerintah.

"Kebijakan ini juga ditujukan untuk meningkatkan imbal hasil bagi daya tarik masuknya aliran masuk investasi portfolio asing ke Indonesia," ujarnya.

Perry menjelaskan, sesuai undang-undang dan praktik yang berjalan selama ini, BI setiap Selasa menggelar RDG Mingguan untuk mengevaluasi pelaksanaan bauran kebijakan yang telah ditetapkan dalam RDG Bulanan.

Dalam evaluasi sejak RDG Bulanan pada 19-20 Mei 2026, nilai tukar rupiah menunjukkan perkembangan yang lebih lemah dari perkiraan. Selain dipengaruhi gejolak global yang terus berlanjut dan tingginya permintaan valuta asing di dalam negeri, tekanan rupiah juga didorong oleh aliran keluar investasi portfolio asing dari Indonesia.

Di sisi lain, pelemahan dolar AS di pasar global turut membuka ruang penguatan bagi mata uang negara lain, termasuk rupiah.

Dolar AS melemah setelah harga minyak mentah turun tajam, seiring pernyataan Presiden AS Donald Trump yang kembali memberi sinyal bahwa kesepakatan AS-Iran dapat tercapai dalam beberapa hari ke depan. Trump juga menyebut Selat Hormuz dapat kembali dibuka segera setelah kesepakatan tersebut ditandatangani.


(evw/evw) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Rupiah Melemah Parah, Begini Proyeksi Dolar AS Ke Depan