Dolar AS Turun ke Rp18.050 Usai BI Kerek Suku Bunga Acuan

Redaksi, CNBC Indonesia
Selasa, 09/06/2026 15:05 WIB
Foto: Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo menyampaikan pemaparan saat konferensi pers hasil rapat berkala KSSK tahun 2026 di Bank Indonesia, Jakarta, Kamis (7/5/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia - Rupiah ditutup menguat signifikan usai Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan.

Pada siang hari ini Selasa (9/6/2026) pukul 12.30 WIB, Bank Indonesia mengumumkan kenaikan BI rate sebesar 25 bps ke angka 5,50% pada Rapat Dewan Gubernur Mingguan.

Melansir data Refinitiv, per pukul 15.00 WIB, rupiah berada di level Rp18.050/US$. Posisi tersebut membuat mata uang Garuda menguat sekitar 0,66% terhadap dolar Amerika Serikat (AS).


Dengan posisi tersebut, rupiah mencatatkan penguatan terhadap dolar AS di mana pada hari sebelumnya kurs USDIDR berada di level pelemahan Rp18.170 atau terdepresiasi 0,89%.

Di pasar global, indeks dolar AS (DXY) terpantau melemah sejak pagi ini. DXY turun 0,14% ke posisi 99,908. Namun, posisi tersebut masih tergolong tinggi setelah DXY menguat tajam 0,66% pada perdagangan terakhir pekan lalu hingga kembali menembus level 100.

Rapat Dewan Gubernur (RDG) Mingguan Bank Indonesia pada hari ini, tanggal 9 Juni 2026 memutuskan untuk kembali menaikkan BI-Rate sebesar 25 bps menjadi 5,50%, suku bunga Deposit Facility sebesar 25 bps menjadi 4,50%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 25 bps menjadi 6,25%.

Kenaikan ini sebagai langkah lanjutan untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar Rupiah dari dampak tingginya gejolak global akibat perang di Timur Tengah serta sebagai langkah pre-emptive untuk menjaga inflasi pada tahun 2026 dan 2027 agar tetap berada dalam kisaran sasaran 2,5±1% yang ditetapkan Pemerintah.

Kebijakan ini juga ditujukan untuk meningkatkan imbal hasil bagi daya tarik masuknya aliran masuk investasi portfolio asing ke Indonesia.

Sesuai Undang-undang dan praktik yang berjalan selama ini, Bank Indonesia setiap hari Selasa mengadakan RDG Mingguan untuk evaluasi pelaksanaan bauran kebijakan yang ditetapkan dalam RDG Bulanan. Dalam evaluasi sejak RDG Bulanan tanggal 19-20 Mei 2026, nilai tukar Rupiah menunjukkan perkembangan yang lebih lemah dari yang diperkirakan.

Di samping disebabkan oleh gejolak global yang terus berlanjut dan tingginya permintaan valuta asing dalam negeri, pelemahan juga didorong oleh aliran keluar investasi portfolio asing dari Indonesia.

Sehubungan dengan itu, Bank Indonesia memandang perlu untuk menempuh langkah-langkah lanjutan guna memperkuat stabilisasi nilai tukar Rupiah dengan meningkatkan kembali imbal hasil dan sejumlah insentif lain untuk mendorong masuknya aliran investasi asing.

Stabilisasi nilai tukar Rupiah dimaksud juga ditempuh agar ketahanan eksternal ekonomi Indonesia tetap terjaga dan sasaran inflasi tahun 2026 dan 2027 tetap tercapai.

Di samping kenaikan BI-Rate menjadi 5,50%, Bank Indonesia juga menempuh langkah-langkah penguatan stabilisasi nilai tukar Rupiah dengan meningkatkan imbal hasil dan sejumlah insentif lain dalam operasi moneter bagi masuknya aliran investasi asing.

Tahun Depan Rupiah Diperkirakan Naik ke Level Rp16.800-17.500/US$

Bank Indonesia (BI) memperkirakan nilai tukar rupiah pada 2027 ada di kisaran Rp16.800-17.500/US$. Perkiraan ini akan lebih kuat dibandingkan posisi sekarang yang sudah di atas Rp18.000/US$.

"Kami juga memandang 2027 rupiah akan menguat Rp16.800-17.500," ungkap Gubernur BI Perrry Warjiyo dalam rapat kerja dengan Badan Anggaran DPR, Jakarta, Selasa (9/6/2026)

Keyakinan Perry mengacu kepada kondisi ekonomi tahun depan yang diperkirakan tidak akan seburuk 2026. Perkiraan BI untuk global adalah 3,1%, sementara Indonesia ada di kisaran 5,1-5,9%.

Selanjutnya terkait fundamental ekonomi yang kuat, diukur dari pertumbuhan ekonomi, inflasi yang rendah, defisit transaksi berjalan yang terkendali dan cadangan devisa lebih dari cukup.

"Fundamental ekonomi itu baik akan mendukung penguatan nilai tukar," imbuhnya.

Penguatan rupiah juga akan ditolong oleh kehadiran PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) yang mendorong kenaikan ekspor, peningkatan devisa hasil ekspor dan penerimaan negara.

Di samping itu, Perry memastikan kehadiran BI di pasar untuk menjaga nilai tukar dan melakukan intervensi demi stabilitas.

"Kemudian koordinasi erat kebijakan dengan pemerintah," pungkasnya.


(fsd/fsd) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Rupiah Melemah Parah, Begini Proyeksi Dolar AS Ke Depan