IHSG Naik 1% Meski Rupiah Masih Lemah, Ini Penyebabnya

mkh, CNBC Indonesia
Selasa, 09/06/2026 09:35 WIB
Foto: Layar menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin (8/6/2026). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih bergerak volatil pada perdagangan Selasa (9/6/2026) meski sempat dibuka melonjak lebih dari 1% pada awal sesi.

Setelah sempat menyentuh area 5.428, indeks kemudian mengalami fluktuasi tajam sebelum akhirnya berada di level 5.391,47 atau naik 0,92% sekitar pukul 09.19 WIB.

Pergerakan liar IHSG pagi ini menunjukkan pasar domestik masih berada dalam fase mencari keseimbangan setelah tekanan jual besar yang menghantam pasar dalam beberapa sesi terakhir.


Secara teknikal maupun psikologis, rebound tajam saat pembukaan lebih mencerminkan aksi bargain hunting dibanding perubahan sentimen secara menyeluruh.

Lonjakan IHSG saat pembukaan terutama ditopang saham-saham berkapitalisasi besar (big caps) yang memberikan kontribusi terbesar terhadap indeks. Saham PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) menjadi pendorong utama dengan kontribusi sekitar 24 poin terhadap indeks, disusul PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT), PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), hingga PT Aneka Tambang Tbk (ANTM).

Menariknya, rebound pagi ini terjadi meski beberapa saham perbankan besar justru masih menjadi pemberat indeks. PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) tercatat menjadi penekan terbesar IHSG dengan kontribusi negatif sekitar 4,7 poin, diikuti PT Bayan Resources Tbk (BYAN), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), serta PT United Tractors Tbk (UNTR).

Fenomena ini mengindikasikan bahwa pasar mulai melihat valuasi sejumlah saham big caps non-perbankan sebagai area yang menarik setelah koreksi dalam beberapa waktu terakhir. Selain itu, penguatan saham telekomunikasi, ritel, hingga komoditas juga membantu menopang sentimen pasar.

Sebagai informasi, saham TLKM menguat setelah perusahaan mengumumkan dividen dengan yield menarik. TLKM akan membagikan dividen tunai dari laba bersih tahun buku 2025 atau setara 123% dari laba bersih atau sejumlah Rp 21,9 triliun. Diketahui sekitar Rp4,2 triliun dividen yang akan dibagikan diambil dari laba ditahan Perseroan tahun sebelumnya.

Keputusan tersebut disetujui oleh pemegang saham TLKM lewat Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang diselenggarakan hari ini dengan dividen tunai yang akan dibagikan tersebut setara Rp 221 per saham.

Bila dihitung berdasarkan harga kemarin, TLKM menawarkan dividen dengan imbal hasil sekitar 9%. 

Di sisi lain, sentimen eksternal juga relatif lebih kondusif dibandingkan saat gelombang sell off sebelumnya. Rupiah memang masih berada di sekitar Rp18.160 per dolar AS, tetapi pelemahannya mulai terbatas. Kondisi ini sedikit meredakan kekhawatiran investor terhadap potensi tekanan lanjutan di pasar keuangan domestik.

Meski demikian, volatilitas diperkirakan masih akan tinggi sepanjang sesi. Hal ini tercermin dari pergerakan indeks yang sempat melonjak lebih dari 1,5% saat pembukaan, namun kemudian cepat terkoreksi sebelum kembali menguat.

Dari sisi pergerakan saham, kondisi pasar pagi ini masih cukup positif. Sebanyak 335 saham menguat, 262 saham melemah, dan 362 saham bergerak stagnan. Artinya, penguatan IHSG pagi ini tidak hanya ditopang segelintir saham besar, tetapi juga mulai diikuti lebih banyak saham lainnya.

Secara teknikal, rebound IHSG pagi ini juga belum sepenuhnya mengubah tren pelemahan yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir. Indeks memang sempat melonjak lebih dari 1%, namun masih bergerak jauh di bawah area resistance penting sehingga volatilitas diperkirakan tetap tinggi. Area 5.300 kini menjadi level krusial yang akan dicermati pelaku pasar sebagai zona pertahanan utama setelah tekanan jual besar beberapa sesi terakhir.


(mkh/mkh) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Rupiah & IHSG Anjlok, Ini Instrumen Pilihan Manajer Investasi