3 Proyek Andalan PGEO Dapat Kucuran Asing US$477,87 Juta
Jakarta, CNBC Indonesia - PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) mendapatkan dukungan pendanaan internasional. Dukungan tersebut diperoleh setelah tiga proyek PGEO masuk ke dalam Green Book 2026 yang diterbitkan Kementerian Perencanaan Pembangunan/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Kementerian PPN/Bappenas).
Direktur Utama PGE Ahmad Yani mengatakan, di tengah meningkatnya kebutuhan energi bersih dan tantangan ketahanan energi global, masuknya proyek-proyek PGEO ke dalam Green Book 2026 Bappenas menjadi pengakuan atas kesiapan proyek untuk memasuki tahap pengembangan berikutnya.
"Kami melihat kinerja positif yang dibukukan Perseroan semakin memperkuat kepercayaan berbagai investor terhadap prospek bisnis dan pengembangan proyek-proyek PGE," ujarnya dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (8/6/2026).
Berdasarkan laporan keuangan per 31 Maret 2026, PGEO mencatatkan peningkatan laba bersih sebesar 40% yakni US$43,90 juta, dibandingkan US$31,35 juta pada periode
yang sama tahun sebelumnya (YoY).
Perseroan juga membukukan pendapatan sebesar US$116,56 juta atau meningkat 14,8 persen dibandingkan US$101,507 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Pada 2025, PGE mencatatkan produksi tertinggi sepanjang sejarah (all-time high) dengan total produksi mencapai 5.095 gigawatt hour (GWh), meningkat 5,55% dibandingkan 4.827 GWh pada 2024.
Tren positif tersebut berlanjut pada kuartal I-2026, ketika produksi listrik meningkat 15,22 persen (YoY) menjadi 1.370 GWh.
Menurutnya, capaian ini mencerminkan kesiapan proyek untuk memasuki tahap pengembangan berikutnya. Selain membuka peluang akses terhadap berbagai sumber pendanaan internasional yang dapat mendukung percepatan realisasi proyek, pencapaian ini juga meningkatkan visibilitas dan daya tarik proyek-proyek Perseroan di mata calon mitra strategis maupun lembaga pendanaan global.
"Kami optimistis penguatan fundamental bisnis, didukung portofolio proyek yang semakin matang, akan menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan berkelanjutan Perseroan sekaligus mendukung agenda transisi energi nasional," tuturnya.
Ketiga proyek tersebut meliputi Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Lumut Balai Unit 3 (55 megawatt/MW), PLTP Lumut Balai Unit 4 (55 MW), serta PLTP Lahendong Unit 7 - 8 (50 MW).
Dengan masuknya ketiga proyek ini ke dalam Green Book, pendanaan yang didapatkan diharapkan dapat membantu Perseroan mempertahankan cost of debt yang kompetitif sekaligus meningkatkan keekonomian proyek dalam jangka panjang.
"Selain membantu menjaga struktur pendanaan yang sehat dan mempertahankan cost of debt yang kompetitif, masuknya ketiga proyek ini juga berpotensi meningkatkan keekonomian proyek sehingga dapat memberikan nilai tambah yang berkelanjutan bagi Perseroan dan para pemangku kepentingan," ungkapnya.
Sebagai informasi, Green Book 2026 yang secara resmi bernama Daftar Rencana Prioritas Pinjaman Luar Negeri Tahun 2026 memuat proyek- proyek nasional yang berhasil mendapatkan komitmen pendanaan luar negeri yang dikoordinasikan Pemerintah Indonesia melalui berbagai mitra pembangunan internasional.
Daftar tersebut disusun berdasarkan Keputusan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Nomor Kep. 52/M. PPN/IIK/06/2026.
Sebelumnya, proyek-proyek tersebut telah masuk dalam Daftar Rencana Pinjaman Luar Negeri Jangka Menengah Tahun 2025 - 2029 (Blue Book) Bappenas yang telah memenuhi berbagai aspek kesiapan teknis, finansial, lingkungan, dan kelembagaan yang dipersyaratkan.
Adapun ketiga proyek tersebut tercantum dalam skema on-lending melalui pembiayaan concessional loan yang menawarkan suku bunga lebih atraktif serta tenor yang lebih
panjang dibandingkan pembiayaan komersial.
Nilai total pinjaman yang tercantum dalam Green Book 2026 mencapai US$477,87 juta, antara lain, PLTP Lumut Balai Unit 3 (target COD 2030) senilai US$158,86 juta dari JICA. PLTP Lumut Balai Unit 4 (target COD 2032) senilai US$148,97 juta dari JICA. Dan PLTP Lahendong Unit 7 - 8 (target COD 2030) senilai US$170,04 juta dari World Bank
Ketiga proyek tersebut merupakan bagian dari roadmap PGE untuk mengembangkan potensi panas bumi hingga 3 gigawatt(GW). Setelah beroperasi, proyek-proyek ini akan menambah
pasokan listrik rendah emisi dan memperkuat peran panas bumi dalam bauran energi nasional.
PLTP Lumut Balai Unit 3 dan PLTP Lumut Balai Unit 4 yang berlokasi di Kabupaten Muara Enim dan Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), Provinsi Sumatera Selatan, akan memperluas pengembangan panas bumi PGE di wilayah Sumatera.
Kedua proyek tersebut juga telah memiliki Power Purchase Agreement (PPA) yang mendukung prospek pengembangannya ke depan, dengan PLTP Lumut Balai Unit 4 tercantum dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN 202 - 2034.
Sementara itu, penambahan kapasitas produksi melalui PLTP Lahendong Unit 7 - 8 serta Binary Unit di Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara, akan, meningkatkan kontribusi PGE terhadap pemenuhan kebutuhan listrik Sulawesi Utara dari 30 persen menjadi 35 -
40 persen dari total kebutuhan listrik.
Sejalan dengan pengembangan tersebut, sebagai world leading geothermal producer, PGE terus berfokus pada pertumbuhan jangka panjang melalui tiga strategi utama, yaitu
optimalisasi aset eksisting, ekspansi bisnis, dan diversifikasi sumber pendapatan baru.
"Kami meyakini bahwa setiap pengembangan panas bumi tidak hanya menghasilkan energi rendah karbon, tetapi juga menciptakan dampak ekonomi yang luas melalui penyerapan tenaga kerja, peningkatan ekonomi lokal, dan penguatan ekosistem industri dalam negeri," tutupnya.
(ayh/ayh) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]