Terungkap, Ini Penyebab IHSG Amblas 1,58%
Jakarta, CNBC Indonesia -Â Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan pagi ini, Kamis (4/6/2026) tercatat melemah 3,02% ke level 5.760,33.Â
Pada awal perdagangan, IHSGÂ sudah dibuka melemah di level 5.919,57. Namun tekanan jual kembali mendominasi sehingga indeks turun lebih dalam ke posisi 5.874,70 atau melemah 66,37 poin (-1,12%). Pada perdagangan pagi ini, IHSG sempat menyentuh level tertinggi di 5.924,51 dan terendah di 5.873,00.
Tekanan di pasar juga kembali memangkas kapitalisasi pasar Bursa menjadi Rp10.311 triliun.
Sebagai catatan, pada perdagangan sebelumnya IHSG ditutup ambles 4,11% ke level 5.941,07, setelah investor asing mencatatkan aksi jual bersih hampir Rp1 triliun dan sekitar 75% saham berakhir di zona merah.
Setelah hancur lebur kemarin, IHSG diperkirakan masih akan menghadapi sejumlah tekanan pada hari ini. Sejumlah sentimen besar baik dari dalam ataupun luar negeri akan menjadi penggerak pasar hari ini.
Ambruknya Wall Street, kenaikan lagi harga minyak, menguatnya dolar AS serta masih tangguhnya ekonomi AS bisa kembali menekan pasar keuangan Indonesia hari ini.
indeks Kospi Korea Selatan koreksi 2% saat perdagangan kembali dibuka setelah libur. Namun, indeks saham berkapitalisasi kecil Kosdaq justru menguat lebih dari 2%.
Di Jepang, indeks Nikkei 225 turun 1,4% setelah mencetak rekor tertinggi pada sesi sebelumnya. Sementara itu, indeks Topix melemah 0,91% seiring aksi ambil untung investor di tengah meningkatnya ketidakpastian global.
Pasar Australia juga bergerak di zona merah dengan indeks S&P/ASX 200 turun 0,84%. Sementara itu, kontrak berjangka indeks Hang Seng Hong Kong berada di level 25.312, lebih rendah dibandingkan penutupan terakhir indeks acuan tersebut yang berada di 25.633,21.
Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menerima kunjungan perwakilan lembaga pemeringkat Standard & Poor's (S&P) Global di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Rabu (3/6/2026).
Dalam pertemuan tersebut, S&P diwakili oleh Kim Eng Tan selaku Managing Director Sovereign Ratings S&P Asia Pasifik. Agenda utama diskusi berkaitan dengan prospek dan ketahanan ekonomi Indonesia di tengah berbagai risiko global yang masih membayangi.
Airlangga menyampaikan bahwa pemerintah memanfaatkan pertemuan tersebut untuk menjelaskan kondisi perekonomian nasional yang dinilai tetap solid meski dihadapkan pada tantangan eksternal seperti ketegangan geopolitik, perlambatan ekonomi dunia, dan gangguan rantai pasok global.
"Pertemuan ini menjadi momentum penting untuk menegaskan ketahanan ekonomi Indonesia di tengah situasi global yang masih penuh ketidakpastian," ujar Airlangga melalui akun Instagram resminya.
Menurut Airlangga, stabilitas ekonomi Indonesia ditopang oleh kombinasi kebijakan fiskal dan moneter yang terukur, kuatnya konsumsi domestik, serta membaiknya kinerja sektor eksternal.
Ia menegaskan bahwa sejumlah indikator utama masih menunjukkan tren positif. "Inflasi tetap terkendali, investasi terus tumbuh positif, dan program hilirisasi mulai memberikan dampak nyata terhadap peningkatan nilai tambah industri nasional," katanya.
Dalam kesempatan itu, pemerintah juga memaparkan berbagai agenda strategis yang tengah dijalankan untuk menjaga momentum pertumbuhan, mulai dari percepatan hilirisasi industri, penguatan ketahanan energi dan pangan, hingga peningkatan daya saing manufaktur.
"Langkah-langkah tersebut menjadi bagian dari transformasi ekonomi Indonesia agar semakin kuat menghadapi tekanan global sekaligus mampu tumbuh lebih kompetitif dalam jangka panjang," ujar Airlangga.
Ia menambahkan, pemerintah tetap optimistis prospek ekonomi Indonesia akan terjaga seiring berlanjutnya reformasi struktural dan pembangunan yang inklusif serta berkelanjutan.
(ayh/ayh) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]