Rupiah Ditutup Menguat 0,2%, Dolar AS Turun ke Rp17.830

Elvan Widyatama, CNBC Indonesia
Selasa, 02/06/2026 15:03 WIB
Foto: Warga melakukan penukaran mata uang rupiah ke dolar AS di Money Changer Valuta Artha Mas, Jakarta, Rabu (6/5/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah berhasil mengakhiri perdagangan awal bulan ini dengan penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Merujuk data Refinitiv, pada penutupan perdagangan Selasa (2/6/2026), rupiah ditutup menguat 0,20% ke level Rp17.830/US$. Penguatan ini sekaligus mematahkan tren pelemahan rupiah dalam lima hari perdagangan beruntun.


Sepanjang perdagangan hari ini, rupiah bergerak cukup volatil. Mata uang Garuda sempat dibuka menguat 0,08% di level Rp17.850/US$, lalu kembali tertekan hingga menyentuh Rp17.892/US$, sebelum akhirnya berbalik menguat hingga penutupan perdagangan.

Di sisi lain, Indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, per pukul 15.00 WIB melemah 0,12% ke posisi 99,081.

Penguatan rupiah pada perdagangan hari ini dipengaruhi oleh sentimen domestik dan eksternal.

Dari dalam negeri, Bank Indonesia terus mengkalibrasi instrumen kebijakan di pasar valuta asing untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

Melalui Peraturan Anggota Dewan Gubernur Nomor 7 Tahun 2026, bank sentral resmi menurunkan batas transaksi pembelian dolar AS tanpa dokumen underlying dari sebelumnya US$100.000 menjadi US$50.000 per April 2026. Batas tersebut kembali dipersempit menjadi US$25.000 per pelaku per bulan yang berlaku mulai awal Juni 2026.

Kebijakan pengetatan pencatatan dasar transaksi di pasar tunai ini dibarengi dengan perluasan relaksasi pada pasar derivatif. Untuk instrumen seperti forward jual dan swap, batas transaksi tanpa underlying ditingkatkan menjadi US$10 juta per transaksi.

Pelaku pasar juga terus didorong untuk memanfaatkan skema Local Currency Transaction dalam perdagangan bilateral. Hingga April 2026, volume transaksi LCT telah mencapai US$22,61 miliar.

Namun demikian, dari sisi data perdagangan, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat surplus neraca perdagangan Indonesia menyusut tajam pada April 2026. Surplus perdagangan hanya sebesar US$90 juta, turun jauh dari posisi Maret 2026 yang mencapai US$3,32 miliar.

Penyusutan surplus tersebut terjadi di tengah lonjakan impor. Nilai impor Indonesia naik 22,49% pada April 2026 menjadi US$25,21 miliar. Sementara itu, ekspor masih lebih besar dengan nilai US$25,30 miliar, meski pertumbuhannya lebih rendah, yakni 21,98%.

Dari eksternal, pelemahan dolar AS di pasar global turut membuka ruang penguatan bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Kondisi ini membuat tekanan terhadap rupiah sedikit mereda pada akhir perdagangan hari ini.


(evw/evw) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Rupiah Melemah Parah, Begini Proyeksi Dolar AS Ke Depan