Breaking! IHSG Melesat 2%, Saham Konglo Kompak Bangkit
Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali perdagangan pertama bulan Juni dibuka menguat pada Selasa (2/6/2026), berbalik arah dari tekanan yang telah terjadi sejak bulan lalu.
Pada awal perdagangan, IHSG melesat 82,62 poin atau 1,35% ke posisi 6.210. Indeks sempat bergerak di rentang 6.11,97 hingga 6.153,71.
Tak lama setelahnya, IHSG bahkan lompat 2% atau naik 122 poin ke level 6.249,98.
Nilai transaksi di awal perdagangan tercatat sebesar Rp 4,2 triliun dengan volume 4,91 miliar saham dan frekuensi374 ribu kali transaksi.
Sebanyak 340 saham tercatat menguat, 237 melemah, dan 156 bergerak stagnan.
Emiten konglomerat khususnya milik Grup Barito tercatat menjadi yang paling banyak ditransaksikan pagi ini. Saham-saham Grup Barito juga tercatat melesat dan menjadi penggerak utama kinerja IHSG hari ini.
Memasuki pekan pertama bulan Juni 2026, pelaku pasar akan mencermati sejumlah rilis data makroekonomi utama baik dari dalam maupun luar negeri.
Selain itu, terdapat beberapa implementasi kebijakan domestik strategis dan dinamika geopolitik global yang patut diperhatikan, termasuk terkait BUMN khusus ekspor.
Mulai 1 Juni 2026, pemerintah menjalankan serangkaian kebijakan baru yang menyasar pengelolaan devisa ekspor dan stabilitas pasar valas. Salah satu yang paling menonjol adalah pembentukan PT Danantara Sumber Daya Indonesia (DSI) sebagai pengelola mekanisme ekspor satu pintu untuk tiga komoditas strategis, yakni batu bara, kelapa sawit, dan ferro alloy. Ketiga komoditas tersebut menyumbang ekspor senilai US$66,13 miliar pada 2025 atau sekitar 23,4% dari total ekspor nasional.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan kebijakan ini merupakan bagian dari upaya memperbaiki tata kelola sumber daya alam sekaligus memperkuat pengawasan transaksi ekspor.
"Sehingga nilai ekspor yang tercatat menggambarkan transaksi yang sebenarnya," ujarnya. Pemerintah akan melakukan evaluasi setiap tiga bulan selama masa transisi sebelum implementasi penuh pada 1 Januari 2027.
Pada saat yang sama, pemerintah juga mulai memberlakukan aturan baru terkait Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA) melalui PP Nomor 21 Tahun 2026. Eksportir sektor nonmigas kini diwajibkan menempatkan 100% DHE pada rekening khusus di dalam negeri selama minimal 12 bulan.
Untuk sektor migas, kewajiban penempatan ditetapkan sebesar 30% selama sedikitnya tiga bulan. Pemerintah juga membatasi konversi devisa ke rupiah maksimal 50% serta menyiapkan insentif perpajakan berupa tarif Pajak Penghasilan yang lebih rendah bagi eksportir yang patuh. Kebijakan ini diharapkan memperkuat cadangan devisa domestik sekaligus meningkatkan manfaat ekspor terhadap sistem keuangan nasional.
Sementara itu, bursa saham Asia-Pasifik dibuka melemah pada perdagangan Selasa (2/6/2026) di tengah meningkatnya ketidakpastian terkait negosiasi perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran.
Melansir CNBC, sentimen tersebut membuat investor cenderung berhati-hati meskipun indeks saham utama Wall Street kembali mencetak rekor tertinggi pada perdagangan sebelumnya.
Di Jepang, indeks Nikkei 225 dibuka turun 0,52%, sementara Topix terkoreksi lebih dalam sebesar 0,98%. Tekanan juga terjadi di Korea Selatan dengan indeks Kospi turun 0,32% dan indeks saham berkapitalisasi kecil Kosdaq anjlok 2,5%.
Pasar saham Australia turut bergerak di zona merah dengan indeks S&P/ASX 200 melemah 0,67%. Sementara itu, kontrak berjangka Hang Seng Hong Kong berada di level 25.207, lebih rendah dibandingkan posisi penutupan sebelumnya di 25.398,18.
Pelaku pasar mencermati perkembangan terbaru hubungan AS dan Iran setelah Presiden AS Donald Trump meremehkan kemungkinan gagalnya pembicaraan damai dengan Teheran. Dalam wawancara dengan CNBC, Trump mengatakan dirinya tidak terlalu peduli jika negosiasi tersebut berakhir.
(fsd/fsd) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]