Yuan Marak Dipakai di RI, BI Permudah Transaksinya di Perbankan
Jakarta, CNBC Indonesia - Bank Indonesia (BI) kini mempermudah transaksi menggunakan mata uang Yuan di Indonesia. Langkah ini dilakukan karena penggunaan skema transaksi mata uang lokal atau Local Currency Transaction (LCT) semakin banyak diminati.
Gubernur BI Perry Warjiyo menyebutkan bahwa nilai transaksi LCT antara Indonesia dan China saat ini mencapai sekitar US$ 3,7 miliar setara Rp 66,11 triliun (asumsi kurs Rp 17.867 per US$) per bulan. Sementara itu, total akumulasi transaksi sepanjang tahun lalu sudah menembus angka US$ 25 miliar setara Rp 446,69 triliun.
"Sekarang Chinese Yuan itu juga sudah ditransaksikan dalam negeri, karena lokal currency transaksi kita dengan Tiongkok itu yang terbesar," kata Perry di kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, dikutip Kamis (28/5/2026).
Oleh sebab itu, ia menekankan, bank-bank di dalam negeri saat ini sudah memiliki fasilitas transaksi yang lengkap terkait dengan yuan China, menyusul penambahan instrumen transaksi yang ditetapkan BI.
Instrumen transaksi dengan yuan China kini bisa dilakukan secara langsung di perbankan domestik baik dalam bentuk transaksi tunai atau spot, currency swap, hingga transaksi forward.
"Jadi Bapak-Ibu sekalian kalau punya Chinese Yuan di dalam negeri sudah banyak, itu bisa langsung transaksikan, mau tunai spot boleh, mau swap boleh, juga mau kemudian digunakan untuk forward juga boleh," ujar Perry.
Sejalan dengan itu, BI juga mendorong penggunaan yuan dalam aturan terbaru Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA).
Selama ini instrumen penempatan DHE SDA mayoritas menggunakan dolar AS. Namun ke depan BI akan memperluas mata uang yang bisa digunakan eksportir.
Selain memperluas mata uang, BI juga memperpanjang tenor instrumen DHE SDA hingga 12 bulan. Perry mengatakan kebijakan itu bertujuan memberi fleksibilitas lebih besar kepada eksportir dalam memanfaatkan devisa hasil ekspor yang ditempatkan di perbankan domestik.
(haa/haa) Add
source on Google