Kenapa Asing Net Sell Rp 2,1 T, tapi IHSG Tetap Hijau?
Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil ditutup menguat pada perdagangan Senin (25/5/2026), meski investor asing kembali melakukan aksi jual jumbo di pasar saham domestik.
IHSG ditutup naik 44,30 poin atau 0,72% ke level 6.206,35. Sebanyak 470 saham menguat, 236 melemah, dan 114 bergerak stagnan.
Padahal, berdasarkan data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), investor asing mencatatkan net sell mencapai Rp2,22 triliun di seluruh pasar. Nilai jual asing tercatat Rp7,53 triliun, lebih besar dibandingkan nilai belinya sebesar Rp5,31 triliun.
Tekanan jual asing terjadi di tengah sentimen rebalancing indeks MSCI dan pelemahan rupiah yang masih membayangi aset-aset emerging market, termasuk Indonesia.
Namun menariknya, derasnya arus keluar dana asing tidak membuat IHSG tumbang. Aksi jual investor global justru langsung diserap oleh pelaku domestik, terutama di saham-saham big caps dan saham konglomerasi.
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) menjadi saham dengan net sell asing terbesar mencapai Rp248,6 miliar. Di sisi lain BMRI menjadi saham paling banyak diserap investor domestik di harga atas. BMRI pun menutup perdagangan dengan kenaikan 2,43%.
Selain itu, asing juga ramai melepas PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) Rp226,2 miliar. Cerita yang sama juga terjadi di AMMN. Investor domestik menyerap buangan asing dan mengerek saham emiten terafiliasi Salim tersebut sebesar 8,62%.
Tekanan juga terlihat pada sejumlah saham Grup Prajogo Pangestu seperti PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), hingga PT Barito Pacific Tbk (BRPT).
Akan tetapi tekanan jual asing di emiten Prajogo membuat harga saham-saham tersebut ambruk. Pasalnya investor domestik enggan menampung saham Prajogo di harga atas.
Di sisi lain, saham-saham bank jumbo tetap menjadi penopang utama indeks. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), dan BMRI tercatat menjadi penggerak terbesar penguatan IHSG.
BBRI bahkan menjadi saham dengan net buy asing terbesar mencapai Rp114,2 miliar, disusul PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) Rp112,2 miliar dan BBCA Rp64,6 miliar.
Sementara itu, secara teknikal, IHSG juga mulai menunjukkan indikasi meredanya tekanan jual setelah sebelumnya terkoreksi sangat dalam dari area puncak 9.100-an hingga sempat menyentuh area 5.900. Dalam beberapa sesi terakhir, indeks mulai bergerak lebih stabil dan mencoba membentuk area konsolidasi baru di kisaran 6.000-6.300.
Meski demikian, tren jangka menengah IHSG masih cenderung bearish karena pola lower high dan lower low masih mendominasi pergerakan indeks. Artinya, penguatan saat ini masih lebih mencerminkan rebound teknikal dibandingkan pembalikan arah tren secara penuh.
(mkh/mkh) Add
source on Google