Dony Oskaria Target Keuntungan BUMN RI Rp 450 T pada 2029
Yogyakarta, CNBC Indonesia - Kepala Badan Pengaturan Badan Usaha Milik Negara/Chief Operating Officer Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara Dony Oskaria menyoroti perihal keuntungan BUMN di Indonesia yang kerap menjadi pertanyaan publik.
Hal ini dikemukakannya saat menjadi pembicara dalam rangkaian Jogja Financial Festival di Jogja Expo Center, Daerah Istimewa Yogyakarta, Sabtu (23/5/2026). Dony menegaskan bahwa kontribusi BUMN mencapai sepertiga dari Anggaran Pendapatan dan Belanja atau APBN RI, baik itu dalam bentuk dividen maupun dalam bentuk pajak.
Pada tahun 2025, keuntungan BUMN RI mencapai Rp 335 triliun dan kontribusi pembayaran pajaknya mencapai Rp 215 triliun.
"Jadi BUMN kita (RI) sangat powerful...Jadi itu tidak benar kalau banyak kita baca BUMN tidak pernah untung. Itu keliru," tegasnya.
Adapun, pada tahun ini, dia memperkirakan keuntungan BUMN bisa mencapai Rp 360 triliun dan dalam tiga tahun ke depan, keuntungannya ditargetkan Dony bisa mencapai Rp 450 triliun.
"Tahun ini kita berharap Rp360 triliun untungnya. Saya sendiri punya harapan paling tidak ketika saya pensiun BUMN (2029) itu bisa memungkinkan keuntungan sedikitnya Rp450 triliun," katanya.
Dalam kesempatan ini, menurut Dony, pengelolaan BUMN berdiri sendiri-sendiri dahulunya, sebelum ada BPI Danantara. Hal itu, lanjut dia, tidak banyak diketahui orang.
"Sebetulnya kementerian BUMN itu tidak memiliki, bukan pemilik daripada BUMN, tetapi Kementerian BUMN hanya punya kuasa kelola," kata Dony.
"Tetapi kemudian akibat daripada pengelolaan yang tidak terintegrasi satu sama lain. Itu kemudian banyak BUMN-BUMN kita menghadapi permasalahan tidak bisa dibantu, tidak bisa diselamatkan," lanjutnya.
Mantan Wakil Menteri BUMN itu lantas mengungkapkan banyak BUMN yang dikenal publik. Akan tetapi, satu per satu mengalami sejumlah permasalahan.
"Mungkin kita mengenal dulu banyak BUMN-BUMN terkenal. Kalau di Bandung itu ada PT INTI yang sangat terkenal, sekarang menghadapi persoalan mungkin akan kita tutup juga. Kemudian ada Jakarta Lloyd yang dulu kita mengenal sangat besar. Krakatau Steel dan lain sebagainya," kata Dony.
"Tetapi karena tidak ada mekanisme untuk membantu satu BUMN dengan BUMN lain, menyebabkan sulit untuk kita melakukan perbaikan. Karena labanya Pak Hery (Direktur Utama BRI Hery Gunardi) di BRI, labanya Pak Anggoro (Direktur Utama BSI Anggoro Eko), Pak Nixon (Direktur Utama BTN) tidak bisa dipergunakan untuk membantu perusahaan yang lainnya," tegasnya.
(haa/haa) Add
source on Google