Dony Oskaria Beberkan Perubahan Pengelolaan BUMN Setelah Ada Danantara

Chandra Dwi Pranata, CNBC Indonesia
Sabtu, 23/05/2026 15:55 WIB
Foto: Kepala Badan Pengaturan Badan Usaha Milik Negara/Chief Operating Officer Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara Dony Oskaria buka-bukaan perihal pengelolaan BUMN saat ini. Hal tersebut dijelaskan Dony saat menjadi salah satu pembicara dalam rangkaian Jogja Financial Festival di Jogja Expo Center, Daerah Istimewa Yogyakarta, Sabtu (23/5/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kepala Badan Pengaturan Badan Usaha Milik Negara/Chief Operating Officer Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara Dony Oskaria buka-bukaan perihal pengelolaan BUMN saat ini. Hal tersebut dijelaskan Dony saat menjadi salah satu pembicara dalam rangkaian Jogja Financial Festival di Jogja Expo Center, Daerah Istimewa Yogyakarta, Sabtu (23/5/2026).



"Terjadi perubahan yang sangat signifikan mengenai pengelolaan BUMN-BUMN kita," katanya.

Sebelumnya, menurut Dony, pengelolaan BUMN berdiri sendiri-sendiri. Hal itu, lanjut dia, tidak banyak diketahui orang.

"Sebetulnya kementerian BUMN itu tidak memiliki, bukan pemilik daripada BUMN, tetapi Kementerian BUMN hanya punya kuasa kelola," ujar Dony.

"Tetapi kemudian akibat daripada pengelolaan yang tidak terintegrasi satu sama lain. Itu kemudian banyak BUMN-BUMN kita menghadapi permasalahan tidak bisa dibantu, tidak bisa diselamatkan," lanjutnya.

Mantan Wakil Menteri BUMN itu lantas mengungkapkan banyak BUMN yang dikenal publik. Akan tetapi, satu per satu mengalami sejumlah permasalahan.

"Mungkin kita mengenal dulu banyak BUMN-BUMN terkenal. Kalau di Bandung itu ada PT INTI yang sangat terkenal, sekarang menghadapi persoalan mungkin akan kita tutup juga. Kemudian ada Jakarta Lloyd yang dulu kita mengenal sangat besar. Krakatau Steel dan lain sebagainya," kata Dony.

"Tetapi karena tidak ada mekanisme untuk membantu satu BUMN dengan BUMN lain, menyebabkan sulit untuk kita melakukan perbaikan. Karena labanya Pak Hery (Direktur Utama BRI Hery Gunardi) di BRI, labanya Pak Anggoro (Direktur Utama BSI Anggoro Eko), Pak Nixon (Direktur Utama BTN) tidak bisa dipergunakan untuk membantu perusahaan yang lainnya," lanjutnya.

Kemudian, singkat cerita, lahirlah Danantara Indonesia selaku Sovereign Wealth Fund Indonesia. Menurut Dony, hampir di semua negara maju memiliki Sovereign Wealth Fund yang bertujuan membantu percepatan daripada pembangunan di suatu negara.

"Kenapa mereka bisa membantu pembangunan? Karena sebagian besar kelebihan daripada pendapatan negara diinvestasikan melalui Sovereign Wealth Fund. Nah di Indonesia, Danantara itu bedanya adalah kita State Owned Enterprise Base Sovereign Wealth Fund, yaitu Sovereign Wealth Fund yang dibangun berdasarkan kepada State Owned Enterprise, konsolidasi daripada BUMN-BUMN," ujar Dony.

Hal tersebut mempermudah pengelolaan BUMN. Sebab, BRI hingga PLN menjadi satu holding company.

"Dengan satu holding company sekarang itu mudah bagi kita untuk melakukan proses penyehatan daripada perusahaan-perusahaan kita," kata Dony.



(miq/miq) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Momen Sidak Dasco, Bos OJK & Danantara ke Bursa Efek