Bos Danantara Ungkap BUMN PT INTI Terancam Ditutup

Chandra Dwi Pranata, CNBC Indonesia
Sabtu, 23/05/2026 16:25 WIB
Foto: COO Danantara Dony Oskaria menyampaikan pemaparan dalam Jogja Financial Festival 2026 di Jogja Expo Center (JEC), Yogyakarta, DIY, Sabtu (23/5/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Yogyakarta, CNBC Indonesia — Chief Operating Officer (COO) Danantara Dony Oskaria membuka peluang penutupan sejumlah badan usaha milik negara (BUMN) yang terus mengalami persoalan bisnis dan sulit diselamatkan, salah satunya PT Industri Telekomunikasi Indonesia (INTI).

Menurut Dony, salah satu tantangan utama pengelolaan BUMN selama ini adalah tidak adanya sistem yang terintegrasi antarperseroan sehingga perusahaan yang sehat sulit membantu BUMN bermasalah.

"BUMN sebelumnya itu berdiri sendiri-sendiri. Ini yang banyak orang tidak tahu," ujar Dony dalam Jogja Financial Festival (Finfest) 2026 di Yogyakarta, Jumat (22/5/2026).


Ia menjelaskan kondisi tersebut membuat sejumlah BUMN besar yang pernah berjaya akhirnya menghadapi tekanan berat.

"Kalau di Bandung itu ada PT INTI yang sangat terkenal, sekarang menghadapi persoalan, mungkin akan kita tutup juga," katanya.

Selain PT INTI, Dony juga menyinggung beberapa BUMN lain yang pernah mengalami tekanan bisnis, seperti PT Jakarta Lloyd (Persero) dan PT Krakatau Steel (Persero) Tbk.

Menurutnya, sebelum adanya Danantara, laba dari BUMN besar seperti PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk tidak dapat digunakan untuk membantu perusahaan negara lainnya.

"Labanya BRI, Bank Mandiri dan lainnya tidak bisa dipergunakan untuk membantu perusahaan yang lain," ujarnya.

Karena itu, pemerintah kini mengonsolidasikan BUMN melalui Danantara yang disebut sebagai sovereign wealth fund berbasis perusahaan negara atau state-owned enterprise based sovereign wealth fund.

Melalui model tersebut, berbagai BUMN kini berada dalam satu holding company sehingga proses restrukturisasi dan penyehatan perusahaan menjadi lebih mudah dilakukan.

"Dengan satu holding company sekarang itu mudah bagi kita untuk melakukan proses penyehatan daripada perusahaan-perusahaan kita," katanya.

Dony menegaskan perubahan tata kelola BUMN dilakukan agar perusahaan pelat merah dapat memberikan kontribusi lebih besar terhadap pertumbuhan ekonomi nasional dan penciptaan lapangan kerja.

"Kita harapkan akan memberikan kontribusi yang maksimal bagi percepatan pertumbuhan ekonomi kita ke depan," pungkasnya.


(mkh/mkh) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: IHSG Ambruk 2% ke 6.100 hingga Ada BUMN Khusus Ekspor Sawit Cs