MARKET DATA

99,8% Transaksi Sudah Digital, BCA Perkuat Benteng Lawan Cyber Fraud

Mentari Puspadini,  CNBC Indonesia
23 May 2026 12:46
SR Advisor Fraud Banking Investigation PT Bank Central Asia Tbk (BCA) & Ketua Komite Kerja Siber Fraud Perbanas, Wani Sabu saat menyampaikan pemaparan dalam sesi Educational Class di acara Jogja Financial Festival 2026 di Jogja Expo Center (JEC), Yog
Foto: SR Advisor Fraud Banking Investigation PT Bank Central Asia Tbk (BCA) & Ketua Komite Kerja Siber Fraud Perbanas, Wani Sabu saat menyampaikan pemaparan dalam sesi Educational Class di acara Jogja Financial Festival 2026 di Jogja Expo Center (JEC), Yogyakarta, Jawa Tengah, Jumat (22/5/2026). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Yogyakarta, CNBC Indonesia - PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) terus berinovasi mengikuti perkembangan digital. Perseroan mencatat hampir seluruh transaksi nasabah kini sudah dilakukan secara digital dengan porsi mencapai 99,8%.

Namun, digitalisasi yang semakin masif juga membawa risiko penipuan siber yang terus meningkat. Secara global, sekitar 88% kasus penipuan berasal dari cyber fraud, sementara di Indonesia angkanya bahkan mencapai 99%.

Senior Advisor of Fraud Banking Investigation BCA Wani Sabu mengatakan, ada sejumlah modus penipuan keuangan yang kerap menyasar nasabah perbankan. Salah satu yang paling sering terjadi adalah penipuan melalui link palsu, mulai dari undangan pernikahan hingga tautan pembayaran pajak.

Ia mengimbau masyarakat agar tidak sembarangan mengklik tautan yang dikirim melalui pesan singkat atau aplikasi percakapan. BCA sendiri memitigasi risiko penipuan tersebut dengan penggunaan face biometric.

"Makanya BCA memproteksi pakai face biometrik. Supaya memastikan nasabah yang masuk ke aplikasi myBCA bukan orang lain," ujar Wani dalam Educational Class (Educlass), Jogja Financial Festival 2026, di Yoygakarta, Jumat, (22/5/2026).

Selain modus phishing melalui tautan palsu, Wani juga mengingatkan adanya modus penipuan dengan fake BTS. Dalam skema ini, pelaku menggunakan alat tertentu untuk menangkap sinyal dan menyusupkan SMS palsu yang seolah-olah berasal dari institusi resmi, termasuk bank atau perusahaan ritel.

Ia mencontohkan modus yang sering digunakan adalah SMS berisi pemberitahuan poin hadiah yang akan hangus dan meminta nasabah segera mengklik tautan tertentu.

"Kalau ada SMS bunyinya kayak gini: Pelanggan yang terhormat, BCA mengingatkan poin anda saat ini Rp12.000 habis masa berlakunya 3 hari. Harap segera tukarkan poin Anda. Jangan di-klik linknya, itu bukan dari BCA. Bisa juga pesan lain yang nadanya menakut-nakuti nasabah, bikin cemas sehingga terpancing mengklik link palsu," tandasnya dalam Educlass bertajuk 'Waspada Kejahatan Siber di Era Digital Banking'.

Karena itu, ia menegaskan nasabah tidak boleh memberikan data pribadi jika ada pesan singkat yang meminta informasi perbankan. Wani menekankan BCA tidak pernah meminta data rahasia nasabah melalui SMS, sehingga setiap permintaan semacam itu patut dicurigai sebagai penipuan.

Untuk meningkatkan keamanan, BCA juga telah mengarahkan berbagai notifikasi layanan ke aplikasi myBCA. Menurutnya, langkah tersebut dilakukan agar komunikasi dengan nasabah lebih aman dan mengurangi risiko cyber fraud.

(rah/rah) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Cetak Kinerja Positif, Begini Rapor CIMB Niaga di Kuartal I-2026


Most Popular
Features