Jogja Financial Festival Ajak Kenali Aset Digital Hingga Love Scam

Paulus Yoga, CNBC Indonesia
Jumat, 22/05/2026 20:44 WIB
Foto: Sejumlah peserta mengunjungi booth Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) dalam Jogja Financial Festival 2026 di Jogja Expo Center (JEC), Yogyakarta, DIY, Jumat (22/5/2026). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Yogyakarta, CNBC Indonesia - Jogja Financial Festival 2026 mendatangkan banyak pakar dan narasumber dengan berbagai bahasan yang sangat menarik. Para peserta diajak mengelola keuangan dan berinvestasi secara bijak, dengan memahami berbagai hal termasuk modus-modus para penipu atau scammer.

Selain menegaskan apa saja tugas lembaganya dalam membantu masyarakat bisa hidup lebih sejahtera melalui berbagai kebijakan untuk industri keuangan, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Friderica Widyasari Dewi juga menekankan beberapa hal kepada para peserta. Terutama adalah jangan pernah jemu untuk belajar tentang keuangan kepada generasi muda.

"Apapun cita-citamu. kalian harus ngerti keuangan. Ada insinyur, doktor hidupnya berantakan karena enggak bisa kelola keuangan," ujar Friderica dalam Jogja Financial Festival 2026 di JEC, Jumat (22/5/2026).


Ia melanjutkan, hal berikutnya adalah bagaimana generasi muda harus bijak dalam menggunakan teknologi. Mengingat saat ini kemudahan dalam beraktivitas melalui teknologi juga memunculkan bahaya laten apabila tidak diwaspadai atau dipahami.

"Sekarang kalian dibombardir yang berbahaya sekali kalau kalian enggak tahu apa yang kalian gunakan, akhirnya kalian pencet-pencet hilang itu bahaya sekali," ucap Friderica.

Tidak ketinggalan, dirinya juga menegaskan, bahwa sebagai generasi muda harus berani membangun finansial sejak dini untuk meraih masa depan.

Dalam membangun aset finansial, peserta juga diajak berkenalan lebih mendalam dengan aset keuangan digital atau kripto. Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital, dan Aset Kripto (ADK IAKD) OJK, Adi Budiarso membagikan tips memilih instrumen investasi aset digital yang aman bagi masyarakat di Indonesia. Pertama adalah mengecek perizinan aset kripto tersebut di laman Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

"Mana yang kira-kira punya izin. Jadi yang menyediakan aset kripto ini adalah pedagang, transaksinya di bursa. Pedagang yang punya izin saat ini jumlahnya 25. Tolong pilih itu, dan pilih salah satu dari 1.464 (aset kripto yang dapat diperdagangkan tercatat OJK). Cek dulu historisnya, baru putuskan," tegasnya.

Di lain sisi, Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Aida S. Budiman menyebut bahwa, BI bersama OJK telah menginisiasi Pusat Inovasi Digital Indonesia (PIDI) untuk melatih jagoan-jagoan digital Indonesia.

Dirinya mengatakan, sejak berjalan dari awal tahun ini, sudah ada 2.300 proposal yang masuk di PIDI dan masih akan terus bertambah.

"Yang dilatih sudah ada 800 proposal, dan setiap tim terdiri dari 2-5 orang. Jadi ada sekitar 3.000 orang yang dilatih selama 187 jam dan 22 hari," ungkap Aida.

Hal lain yang patut diperhatikan peserta Jogja Financial Festival 2026 dan oleh masyarakat pada umumnya, adalah modus penipuan yang bisa merugikan di masa depan. Friderica turut menekankan agar para peserta mewaspadai hal tersebut.

"Ada impersonation. Terus penipuan investasi hati-hati, love scam hati itu hati-hati, dan mulai banyak, " tandasnya.


(rah/rah) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: OJK Prediksi Tak Ada Penambahan Saham RI di Rebalancing MSCI