Breaking News! IHSG Balik Arah, Naik 1%
Jakarta, CNBC Indonesia — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat lebih dari 1% menjelang akhi perdagangan Jumat (22/5/2026), setelah sempat ambruk dan menembus level psikologis 6.000 di awal perdagangan.
Per pukul 16.50 WIB, IHSG naik 1,19% atau menguat 72,31 poin ke level 6.167,25.
IHSG sempat menyentuh level terendah harian di 5.966,86 sebelum akhirnya berbalik arah dan terus melesat hingga menyentuh level tertinggi harian di 6.171,97 menjelang penutupan perdagangan.
Nilai transaksi pasar mencapai Rp18,58 triliun dengan volume perdagangan 35,46 miliar saham dan frekuensi transaksi sebanyak 1,89 juta kali.
Sebanyak 441 saham menguat, 288 saham melemah, dan 230 saham stagnan. Kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia (BEI) tercatat mencapai Rp10.633 triliun.
Analis MNC Sekuritas Herditya mengatakan, secara teknikal, posisi IHSG masih berada dalam tren pelemahan. Adapun tekanan pertama IHSG berasal dari hasil rebalancing MSCI yang membuat saham-saham berkapitalisasi besar ditinggalkan investor.
Sementara, Analis Doo Financial Lukman Leong mengatakan hal yang senada bahwa efek rebalancing MSCI masih terasa, dan masih memicu tekanan jual dari investor global.
Rupiah yang masih relatif lemah membuat investor asing cenderung lebih berhati-hati terhadap aset Indonesia, sehingga IHSG terlihat tertinggal dibanding bursa Asia lain.
Selain itu, investor juga turut mencermati wacana ekspor komoditas strategis melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia, yang memicu kekhawatiran akan ketidakpastian regulasi atau kontrol negara terhadap sektor swasta.
Rencana pemerintah melakukan sentralisaisi ekspor lewat satu badan juga disorot lembaga pemeringkat global.
S&P Global Ratings memperingatkan kebijakan ini dapat menimbulkan risiko terhadap ekspor, penerimaan negara, dan neraca pembayaran Indonesia.
"Faktor-faktor ini menciptakan ketidakpastian penurunan yang lebih besar terhadap peringkat Indonesia," tulis S&P dikutip dari Reuters Kamis (21/5/2026).
S&P juga menilai investasi dapat terdampak jika perubahan aturan ini menurunkan kepercayaan dunia usaha dan sentimen investasi.
Sementara itu, Moody's menilai rencana sentralisasi ekspor dapat mendukung aliran devisa masuk, tetapi juga meningkatkan risiko distorsi pasar dan membebani sentimen investor.
(mkh/mkh) Add
source on Google