Cara Sederhana Memahami Alasan Rupiah Melemah
Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat masih terus mengalami tekanan. Bahkan, telah bertengger di level Rp17.725/US$.
Berdasarkan data Refinitiv, sejak pagi ini kurs rupiah telah mengalami tekanan. Per pukul 09.15 WIB, rupiah berada di level Rp17.700/US$ atau melemah 0,34% terhadap dolar AS.
Deputi Gubernur BI Aida S Budiman menjelaskan, tekanan yang dialami kurs rupiah hingga kini disebabkan faktor permintaan dan pasokan dolar yang tidak sebanding.
"Dia mengalami pelemahan karena yang ditawarkan untuk US dollar lebih sedikit dari yang minta, itu gampangnya," kata Aida dalam acara Jogjakarta Financial Festival di Jogja Expo Centre (JEC) pada hari ini, Jumat (21/5/2026).
Permasalahan ini menurut Aida dapat dilihat dari kondisi transaksi berjalan Indonesia yang kembali mengalami defisit pada awal tahun ini.
Defisit ransaksi berjalan bahkan telah tembus hingga US$ 4 miliar atau 1,1% dari PDB pada kuartal I-2026. Defisit ini meningkat jika dibandingkan kuartal IV-2025 sebesar 0,7% dari PDB atau US$ 2,5 miliar.
"Transaksi berjalan kita artinya defisit, artinya kita netnya mengalami banyak bayar daripada nerima, ini yang menjadi permasalahan," tegas Aida.
Untuk menangani masalah itu, Aida memastikan, pemerintah dan BI telah memiliki sejumlah jurus yang dapat membuat pasokan dolar di dalam negeri dapat mengimbangi tingginya permintaan. Salah satunya dengan kehadiran BUMN Ekspor PT Danantara Sumberdaya Indonesia (PT DSI).
"Presiden akan buat suatu badan untuk pastikan penerimaan ekspor lebih baik dan makin optimal," ucapnya.
Aida menekankan, selain itu, BI dan pemerintah kini juga tengah bahu membahu menarik modal asing ke dalam negeri supaya dapat memperkuat pasokan dolar di dalam negeri.
"Dan untuk menutup transaksi berjalan tadi, ada transaksi modal. Transaksi modal sedang mengalami penurunan dan harus menarik arus modal asing masuk ke Indonesia, sehingga kita bisa lakukan pemenuhan," paparnya.
(arj/arj) Add
source on Google