Brent Tembus US$104, Pasar Cemas Konflik Timur Tengah Berlarut

Emanuella Bungasmara Ega Tirta, CNBC Indonesia
Jumat, 22/05/2026 10:50 WIB
Foto: Ilustrasi Nafta Kilang Minyak. (Dok. Freepik)

Jakarta, CNBC Indonesia — Harga minyak dunia kembali menanjak pada perdagangan Jumat (22/5/2026) pagi, setelah pasar mulai meragukan peluang tercapainya kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran. Fokus pasar kini kembali tertuju pada risiko pasokan global, terutama jalur vital Selat Hormuz yang masih dibayangi gangguan distribusi energi dari kawasan Timur Tengah.

Menurut data Refinitiv pada pukul 09.50 WIB, harga minyak Brent kontrak Juli (LCOc1) naik ke US$104,24 per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI/CLc1) berada di level US$97,48 per barel. Kenaikan ini terjadi setelah sehari sebelumnya Brent ditutup di US$102,58 dan WTI di US$96,35 per barel.


Meski menguat pagi ini, pergerakan minyak sepanjang pekan masih sangat liar. Dalam rentang kurang dari dua minggu, Brent sempat menyentuh US$112,1 per barel pada 18 Mei sebelum turun tajam ke kisaran US$102. WTI pun bergerak dari US$108,66 menuju area US$96-97 per barel. Volatilitas tinggi ini lahir dari kombinasi konflik geopolitik, ancaman gangguan suplai, hingga spekulasi arah produksi OPEC+.

Reuters melaporkan negosiasi AS-Iran masih menemui jalan terjal. Sumber senior Iran menyebut belum ada kesepakatan dengan Washington, walau jarak pandangan kedua negara mulai menyempit. Di sisi lain, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengaku ada "tanda-tanda positif" dalam pembicaraan tersebut, namun AS menolak segala bentuk sistem tarif maupun kontrol di Selat Hormuz.

Pasar memandang Selat Hormuz sebagai urat nadi energi dunia. Sebelum perang pecah, sekitar 20% pasokan energi global melintas dari jalur sempit tersebut. Konflik yang berlangsung kini telah memangkas sekitar 14 juta barel per hari pasokan minyak dunia, setara 14% suplai global, termasuk ekspor dari Arab Saudi, Irak, Uni Emirat Arab, hingga Kuwait.

Kepala perusahaan migas nasional Abu Dhabi, ADNOC, bahkan memperkirakan arus normal minyak melalui Hormuz belum akan pulih penuh sebelum kuartal I atau kuartal II 2027, sekalipun konflik berhenti hari ini. Pernyataan itu membuat pelaku pasar mulai menghitung ulang potensi krisis pasokan jangka panjang.

Analis komoditas Rakuten Securities, Satoru Yoshida, mengatakan kenaikan harga minyak pagi ini dipicu ketidakpastian arah negosiasi damai. Pasar masih melihat risiko gangguan suplai dari Timur Tengah tetap tinggi selama situasi Hormuz belum stabil. Yoshida memperkirakan harga WTI pekan depan bergerak di kisaran US$90-US$110 per barel, pola yang sudah terbentuk sejak akhir Maret lalu.

Dari sisi pasokan, tujuh negara utama OPEC+ disebut kemungkinan menyetujui kenaikan moderat target produksi Juli dalam pertemuan 7 Juni mendatang. Namun tambahan produksi itu belum cukup menenangkan pasar karena distribusi minyak dari sejumlah negara produsen masih terganggu akibat perang Iran.

Lonjakan harga minyak kini kembali memunculkan kekhawatiran inflasi global. Negara-negara importir energi menghadapi ancaman kenaikan biaya logistik, transportasi, hingga pangan apabila harga bertahan di atas US$100 per barel dalam waktu lama. Situasi ini membuat pasar global masuk ke fase sensitif: di satu sisi ada harapan diplomasi, di sisi lain ancaman krisis pasokan belum benar-benar pergi.

CNBC Indonesia 


(emb/emb) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: PLTN UEA Diserang, Harga Minyak Mendidih & Harga Emas Ambruk 4%