Prajogo Pangestu Jadi Konglomerat RI Paling Boncos Tahun Ini
Jakarta, CNBC Indonesia — Konglomerat petrokimia Prajogo Pangestu kini bukan lagi orang nomor satu terkaya di Indonesia. Seiring dengan melemahnya saham-saham yang ia kendalikan, Prajogo telah tersingkirkan dari tahta nomor satu dan kini berada di urutan orang ketiga terkaya di RI.
Berdasarkan perhitungan Forbes Real Time Billionaires per 21 Mei 2026, kekayaan pemilik Grup Barito itu menurun tajam sebesar 17,35% kemarin, menjadikannya salah satu konglomerat paling boncos dalam sehari. Kekayaannya kini tercatat sebanyak US$13,6 miliar atau sekitar 240,14 triliun (kurs Rp 17.660).
Bila dibandingkan dengan awal tahun, harta Prajogo telah turun US$15 miliar, setara Rp 264,86 triliun atau ambles 52,45%.
Prajogo kini berada di bawah pemilik Grup Djarum, Robert Budi Hartono dan pemilik Bayan Resources (BYAN), Low Tuck Kwong. Pundi-pundi Robert dan Low masing-masing tercatat sebesar US$15,5 miliar dan US$15,2 miliar.
Budi Hartono dan Low Tuck Kwong sebenarnya juga mencatat penurunan harta. Akan tetapi penurunan harta mereka jauh lebih kecil dibandingkan Prajogo. Pun dengan orang-orang terkaya RI lain yang berada di dalam daftar Forbes, tidak ada yang mengalami penurunan kekayaan ekstrem seperti Prajogo.
Merosotnya harta Prajogo tidak terlepas dari koreksi signifikan saham-saham miliknya.
Seperti PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN) yang ambles 62,27% dalam sebulan terakhir. Saham ini memang menjadi sorotan belakangan ini, usai terungkap memiliki High Shareholding Concentration (HSC) sebesar 97,31%. Imbasnya, Morgan Stanley Capital International (MSCI) dalam pengumuman tinjauan Mei 2026, memutuskan untuk mendepak BREN dari indeks saham berkapitalisasi besar dan menengah Indonesia.
Saham-saham Prajogo lainnya juga ambruk dalam sebulan terakhir. PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk. (CUAN) turun 65,15%, PT Barito Pacific Tbk. (BRPT) turun 27,64%, PT Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA) turun 47,21%, PT Chandra Daya Investasi Tbk. (CDIA) turun 27,72%, dan PT Petrosea Tbk. (PTRO) turun 11,50%.
Sepanjang tahun berjalan, saham-saham tersebut sudah turun lebih dari 50%, bahkan ada yang merosot hingga 75%.
Seiring dengan koreksi tajam harga saham, kapitalisasi pasar Barito Renewables Energy (BREN) kini tinggal sekitar Rp335,9 triliun. Padahal pada akhir 2025, kapitalisasi pasar BREN sempat menembus sekitar Rp1.298 triliun. Artinya, hampir Rp1.000 triliun nilai pasar BREN telah menguap.
Sementara itu, kapitalisasi pasar TPIA kini berada di kisaran Rp196,4 triliun, BRPT Rp146,3 triliun, CDIA Rp94,25 triliun, CUAN Rp62,96 triliun, dan PTRO sekitar Rp37 triliun.
Secara total, kapitalisasi pasar enam emiten inti grup Prajogo kini berada di kisaran Rp872 triliun, jauh di bawah posisi puncaknya yang sempat diperkirakan menembus lebih dari Rp2.300 triliun.
Dengan demikian, nilai kapitalisasi pasar grup Prajogo diperkirakan telah menyusut lebih dari Rp1.400 triliun dari posisi tertingginya.
(mkh/mkh) Add
source on Google