IHSG Merah Sendirian di Asia, Saham Prajogo Babak Belur
Jakarta, CNBC Indonesia — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup ambruk pada akhir sesi I perdagangan Kamis (21/5/2026), terseret aksi jual besar-besaran di saham-saham energi, utilitas, hingga bahan baku.
Per pukul 12.00 WIB, IHSG ditutup merosot 2,76% atau turun 174,14 poin ke level 6.144,36. Padahal pada awal perdagangan indeks sempat dibuka menguat dan menyentuh level tertinggi harian di 6.378,81.
Sebanyak 633 saham terkoreksi, hanya 126 saham yang menguat, sementara 200 saham bergerak stagnan. Nilai transaksi tercatat mencapai Rp9,77 triliun dengan volume perdagangan 18,85 miliar saham dalam 1,27 juta kali transaksi. Kapitalisasi pasar pun anjlok menjadi Rp 10.618 triliun.
Berbeda dengan Indonesia, mayoritas bursa Asia justru bergerak menguat. Indeks Kospi Korea Selatan melesat 8,07%, Nikkei Jepang naik 3,58%, Taiwan menguat 3,77%, dan ASX 200 Australia bertambah 1,67%.
Sementara itu, Hang Seng Hong Kong terkoreksi tipis 0,03%, Shanghai Composite turun 0,09%, dan indeks Malaysia melemah 0,04%.
Adapun tekanan terbesar IHSG berasal dari sektor utilitas yang anjlok 8,70%, disusul bahan baku turun 6,53%, energi melemah 5,44%, serta konsumer nonprimer terkoreksi 3,22%.
Menariknya, sektor keuangan yang sebelumnya masih bertahan di zona hijau ikut berbalik melemah 0,69% pada akhir sesi I.
Aksi jual besar masih terkonsentrasi pada saham-saham grup Prajogo Pangestu setelah pasar merespons keluarnya sejumlah emiten grup tersebut dari indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI).
Saham Chandra Asri Pacific (TPIA) ambles 14,66% ke level 2.270 dan masuk jajaran top losers bursa. Sementara Barito Renewables Energy (BREN) turun 10,75%, Barito Pacific (BRPT) anjlok 12,5%, Petrosea (PTRO) melemah 11,5%, serta Petrindo Jaya Kreasi (CUAN) turun 9,32%.
Sentimen tersebut memicu kekhawatiran pasar terhadap potensi keluarnya dana asing pasif (passive fund outflow), mengingat banyak fund global menjadikan indeks MSCI sebagai acuan investasi.
Selain faktor MSCI, pasar juga masih merespons keputusan Bank Indonesia (BI) yang menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25%.
Kenaikan suku bunga yang agresif membuat investor cenderung keluar dari saham-saham dengan valuasi mahal dan pergerakan volatil, terutama saham-saham yang sebelumnya sudah mengalami reli sangat tinggi.
Sementara itu, pengamat pasar modal Elandry Pratama mengatakan IHSG juga mengalami tekanan sebagai respons dari rencana badan ekspor komoditas. Muncul kekhawatiran adanya perluasan intervensi negara terhadap sektor tambang, khususnya batu bara yang sebelumnya sudah terbebani DMO.
Bagi investor, kata dia, masalah utamanya bukan sekadar badan baru, tetapi risiko bertambahnya kontrol terhadap harga, volume ekspor, hingga mekanisme penjualan. Kalau itu terjadi, margin dan fleksibilitas bisnis emiten bisa tertekan.
"Ini yang membuat market langsung memberi discount terhadap saham batu bara," papar Elandry saat dihubungi CNBC Indonesia, Rabu (20/5/2026).
Ia menyebut investor asing biasanya sangat sensitif terhadap regulatory uncertainty. Belum lagi, sektor batu bara Indonesia selama ini menarik karena cash flow besar, dividen tinggi, dan mekanisme pasar yang relatif jelas.
Oleh karena itu, ketika muncul potensi tambahan intervensi, risk premium otomatis naik dan valuasi bisa tertekan walaupun laba emiten masih kuat.
"Saya melihat sentimen ini juga berbahaya jika menimbulkan persepsi bahwa pemerintah terlalu agresif masuk ke mekanisme bisnis komoditas. Dalam jangka pendek, hal itu bisa membuat investor memilih wait and see atau bahkan mengurangi exposure di saham tambang," tukas Elandry.
Namun, jika implementasinya hanya sebatas penguatan koordinasi ekspor, perluasan pasar, dan optimalisasi devisa tanpa mengganggu pricing mechanism emiten, dampaknya bisa lebih terbatas.
"Jadi menurut saya, pasar saat ini bukan takut pada badan ekspornya, tetapi takut pada potensi intervensi lanjutan yang dapat mengurangi profitabilitas dan kepastian usaha emiten tambang ke depan," tutur Elandry.
Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto mengumumkan pembentukan BUMN khusus ekspor untuk komoditas batu bara, kelapa sawit, hingga fero alloy.
Menurut Menteri ESDM Bahlil Lahadalia kebijakan tersebut bertujuan memperbaiki tata kelola ekspor sekaligus menutup celah praktik under-invoicing, under-pricing, hingga transfer pricing.
(mkh/mkh) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]