Seseorang berdoa dengan latar belakang papan perdagangan di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (19/5/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mengalami tekanan tajam pada perdagangan hari itu. Memasuki awal sesi kedua, IHSG merosot 4,11 persen atau turun 270,91 poin ke level 6.328,28, yang turut memangkas kapitalisasi pasar sebesar Rp415 triliun menjadi Rp11.137 triliun dibandingkan sehari sebelumnya. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)
Pelemahan tersebut membuat IHSG menyentuh level terendah dalam lebih dari satu tahun terakhir. Sepanjang perdagangan, sebanyak 661 saham berada di zona merah, sementara hanya 74 saham yang menguat dan 80 saham stagnan. Nilai transaksi tercatat mencapai Rp17,72 triliun dengan volume perdagangan 33,36 miliar saham dalam 2,04 juta kali transaksi. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)
Koreksi tajam hari ini melanjutkan tren pelemahan yang sudah terjadi sejak awal pekan. Pada perdagangan Senin (18/5/2026), IHSG sempat merosot lebih dari 4% sebelum akhirnya memangkas penurunan dan ditutup melemah 1,85%. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)
Mengutip data Refinitiv, hampir seluruh sektor berada di zona merah, kecuali sektor kesehatan. Sektor bahan baku menjadi yang paling tertekan dengan penurunan mencapai 8,4%, dipicu aksi jual besar pada saham-saham emiten milik Prajogo Pangestu. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)
Saham PT Ekamas Fortuna (MORA) menjadi pemberat utama IHSG setelah turun 11,41% dan memberikan kontribusi negatif sebesar 13,45 poin terhadap indeks. Selanjutnya disusul PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) sebesar -11,16 poin, PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) -10,63 poin, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) -9,37 poin, serta PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) -9,26 poin. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)
Tekanan terhadap pasar saham domestik dipicu keluarnya sejumlah saham dari indeks global MSCI. Tiga dari lima saham pemberat utama IHSG diketahui termasuk emiten yang didepak dari MSCI Global Standard Index maupun MSCI Global Small Cap Index. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)
Sentimen negatif juga datang dari FTSE Russell yang mengeluarkan peringatan terkait saham-saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi atau High Shareholding Concentration (HSC) di BEI. Dalam dokumen “Index Treatment for the June 2026 Index Review” yang dirilis pada 13 Mei 2026, FTSE menyatakan saham dengan kepemilikan yang terlalu terkonsentrasi berpotensi dihapus dari indeks pada evaluasi berikutnya. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)
FTSE Russell menegaskan bahwa sekuritas yang masuk kategori HSC akan diperlakukan dengan “harga nol” pada tinjauan Juni 2026 dan efektif berlaku mulai pembukaan pasar pada 22 Juni 2026. Kebijakan tersebut diambil demi menjaga integritas dan likuiditas indeks, terutama untuk melindungi investor institusi yang mengelola dana indeks pasif. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)
Di sisi lain, tekanan terhadap IHSG turut diperparah oleh pelemahan nilai tukar rupiah. Berdasarkan data Refinitiv per pukul 12.49 WIB, rupiah melemah 0,51% ke level Rp17.730 per dolar AS, setelah sebelumnya dibuka di posisi Rp17.650 per dolar AS pada awal perdagangan. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)