MARKET DATA

IHSG Pangkas Koreksi, Ditutup Turun 1,85% Hari Ini

mkh,  CNBC Indonesia
18 May 2026 16:17
Ilustrasi Bursa Efek Indonesia (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)
Foto: Ilustrasi Bursa Efek Indonesia (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup turun 1,85% atau -124,08 poin ke level 6.599,24 pada perdagangan hari ini, Senin (18/5/2026).

Sebanyak 647 saham turun, 183 tidak bergerak, dan 129 naik. Nilai transaksi mencapai Rp 20,47 triliun, melibatkan 29,72 miliar saham dalam 2,54 juta kali transaksi. Kapitalisasi pasar merosot menjadi Rp 11.539 triliun. 

Sepanjang hari ini IHSG bergerak pada rentang 6.398,79–6.631,28. IHSG mengawali perdagangan dengan penurunan lebih dari 2% dan sempat turun lebih dari 4% pada perdagangan sesi 1. 

Mengutip Refinitiv, bahan baku menjadi sektor dengan penurunan paling dalam, yakni -6,55%. Lalu diikuti oleh utilitas -2,96% dan kesehatan -2,75%. 

Dian Swastatika Sentosa (DSSA) dan Chandra Asri Pacific (TPIA)  yang baru saja didepak dari indeks MSCI menjadi pemberat utama dengan bobot masing-masing -13,67 poin dan 13,23 poin. Sejak pagi DSSA dan TPIA sudah turun hingga menyentuh batas auto reject bawah (ARB) atau merosot 15%. 

Selanjutnya saham dua bank jumbo juga menjadi pemberat IHSG hari ini. Bank Rakyat Indonesia (BBRI) menyumbang -12,55 poin dan Bank Mandiri (BMRI) -6,26 poin.

Hal tersebut seiring melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Nilai tukar rupiah ditutup melemah terhadap dolar AS pada perdagangan Senin (18/5/2026).

Melansir data Refinitiv, pada penutupan perdagangan sore ini rupiah berakhir di zona merah dengan melemah 1,03% ke level Rp17.640/US$. Level tersebut membuat rupiah kembali menembus area psikologis di atas Rp17.000/US$ dan menjadi posisi penutupan terlemah sepanjang sejarah.

Tekanan terbesar terhadap IHSG sejak akhir pekan lalu datang dari saham-saham yang dikeluarkan dari MSCI Global Standard Index dan MSCI Global Small Cap Index.

Tak lama setelah pengumuman MSCI, penyedia indeks global lainnya FTSE ikut buka suara soal masa depan saham-saham RI yang tergabung dalam indeks besutannya.

Dalam pengumuman terbaru bertajuk "Index Treatment for the June 2026 Index Review" yang dirilis Rabu (13/5/2026), FTSE memberikan sinyal keras terkait potensi penghapusan saham-saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi (HSC) di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Aturan terbaru FTSE diterbitkan menyusul upaya otoritas pasar modal Indonesia dalam meningkatkan transparansi, termasuk publikasi daftar High Shareholding Concentration (HSC).

Dalam dokumen tersebut, FTSE Russell menegaskan bahwa jika sebuah perusahaan menjadi subjek peringatan konsentrasi kepemilikan saham dari otoritas bursa dan keuangan, di mana saham beredar hanya dikuasai segelintir pihak, maka saham tersebut akan didepak dari indeks pada tinjauan berikutnya.

"Untuk memastikan integritas dan replikabilitas indeks, FTSE Russell akan menghapus sekuritas yang terdampak pada harga nol pada tinjauan Juni 2026, efektif mulai pembukaan pasar pada Senin, 22 Juni 2026," tulis pengumuman resmi tersebut.

Kebijakan "harga nol" ini diambil karena FTSE menilai likuiditas saham HSC cenderung memburuk secara material. Investor institusi pengelola dana indeks (passive fund) dikhawatirkan tidak akan menemukan pembeli (counterparty) yang cukup jika harus keluar dari saham tersebut secara mendadak.

(mkh/mkh) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article IHSG Tiba-tiba Dibuka Anjlok 2,59%, Ini Penyebabnya


Most Popular
Features