Analis Ungkap Alasan IHSG Anjlok 4%, Investor Wajib Pantau Hal Ini
Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat anjlok lebih dari 4% hari ini. Sejumlah analis pun menjelaskan penyebab hingga proyeksi pergerakannya ke depan.
Diketahui, IHSG ambruk hari ini, Senin (18/5/2026). Sepanjang sesi 1, IHSG bergerak di rentang 6.398,79-6.631,28 dan sempat turun lebih dari 4%.
Pada akhir sesi 1, IHSG bertengger di level 6.470,35, turun 252,97 poin atau -3,76%. Sebanyak 715 emiten turun, 154 tidak bergerak, dan hanya 90 yang naik.
Nilai transaksi hingga akhir jeda makan siang mencapai Rp 11,94 triliun, melibatkan 20,07 miliar saham, dalam 1,71 juta kali transaksi. Kapitalisasi pasar pun merosot menjadi Rp 11.343 triliun, turun Rp 482 triliun.
Head of Research at Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi mengatakan, sentimen utama pergerakan IHSG hari ini adalah outflow investor setelah adanya rebalancing MSCI dan FTSE Russell.
Tekanan kedua IHSG disebut berasal dari saham Bank mandiri (BMRI) yang gap-down karena masuk dalam periode ex-dividend. Sementara sentimen ketiga dan keempat adalah rupiah yang melemah dan pasar yang wait & see jelang keputusan BI Rate 20 Mei.
"Investor bisa mencermati area support dan resistance IHSG di range 6.300-6.600," pungkap Wafi kepada CNBC Indonesia.
Di sisi lain, Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana mengatakan, saat ini IHSG sudah menutup area gap dan mencapai target koreksinya. Dari sisi sentimen, pihaknya mencermati dengan adanya konflik geopolitik yang berlarut-larut kembali meningkatkan harga minyak mentah dunia.
Selain itu, IHSG juga tertekan pergerakan bursa global dan mayoritas bursa Asia yang terkoreksi ditambah dengan nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS yang masih tertekan dan saat ini berada di level Rp 17.676/USD.
"Kemudian IHSG tertekan dengan adanya pengumuman dari MSCI dan FTSE yang masih membekukan indeks Indonesia dan mengeluarkan beberapa emiten dari konstituennya, dimana hal ini akan menimbulkan outflow yang cukup besar di akhir Mei nanti. Support 6.365, resistance 6.587," jelas Herditya yang kerap disapa Didit.
Sementara itu, melansir riset Pilar Mas Sekuritas, selain sentimen di atas, pelaku pasar juga bereaksi negatif terhadap pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyebut bahwa penduduk di area pedesaan tidak menggunakan mata uang dolar AS. Komentar yang diharapkan dapat menenangkan pasar, nyatanya justru menjadi sentimen negatif di pasar.
"Pelaku pasar menilai pernyataan itu memperlihatkan kurangnya kepekaan pemerintah terhadap urgensi stabilisasi mata uang. Ini sebagai sinyal lemahnya komitmen pemerintah dan otoritas lainnya dalam menjaga nilai tukar dan membangun kredibilitas fundamental ekonomi nasional di mata investor global," jelasnya
Dalam skenario ini, Pilarmas Investindo Sekuritas merekomendasikan aksi beli (buy) dengan support dan resistance IHSG hari ini di rentang 5.725 - 6.050.
(fsd/fsd) Add
source on Google