07:17
Video: Selamatkan IHSG & Rupiah, Investor Butuh Aksi Nyata Pemerintah
Jakarta, CNBC Indonesia- Pasar keuangan Indonesia tengah dihantam 2 sentimen besar usai perusahaan riset yang menyediakan indeks dan data pasar saham global yakni MSCI (Morgan Stanley Capital International) mengumumkan rebalancing saham Indonesia dan mengeluarkan 18 Saham dari Indeks MSCI.
Di sisi lain, gejolak perang Timur Tengah yang belum usai telah menekan perekonomian global termasuk Indonesia, Dimana kenaikan harga energi dan pangan telah dirasakan oleh banyak negara seperti Amerika Serikat yang berdampak pada lonjakan inflasi hingga ancaman resesi. Di Indonesia kondisi ini dikhawatirkan akan menekan APBN karena harus menanggung lonjakan subsidi energi mengingat ketergantungan RI terhadap impor BBM hingga LPG masih sangat besar.
Merespons berbagai tekanan eksternal dan internal ini, pasar keuangan RI dihantam capital outflow yang besar dan efeknya IHSG terus mengalami tekanan hingga pada perdagangan Rabu (13/05) harus ambles ke level 6.700-an dan Rupiah menyentuh level terendah sepanjang sejarah di Rp 17.530 per Dolar AS.
Chief Executive Officer Sucor Sekuritas, Bernadus Wijaya menilai penurunan IHSG hari ini sebagai dampak keluarnya 18 saham RI dari daftar konstituen MSCI dimana asing sudah keluar dari pasar RI mencapai RP 50 Triliun (ytd).
Di tengah tekanan pasar yang masih sangat besar ini, Bernadus meyakini Indonesia tidak akan dikeluarkan dari emerging market menuju frontier market mengingat kondisi ekonomi RI yang masih sangat kuat. Meski demikian pelaku pasar menanti aksi nyata pemerintah dan Otoritas bursa maupun otoritas moneter dalam menjaga kepercayaan pasar maupun pengelolaan APBN.
Seperti apa analisa tekanan di pasar keuangan RI? Selengkapnya simak dialog Shania Alatas dengan Chief Executive Officer Sucor Sekuritas, Bernadus Wijaya dalam Power Lunch, CNBC Indonesia (Rabu, 13/05/2026)
Addsource on Google