IHSG Goyang Karena MSCI? Danantara Sebut Ada Faktor Lain

Romys Binekasri, CNBC Indonesia
Selasa, 12/05/2026 14:20 WIB
Foto: Chief Investment Officer (CIO) Danantara, Pandu Sjahrir menyampaikan paparan dalam acara Big Alpha Business Summit 2025 di Jakarta, Jumat (19/12/2025). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga saat ini sulit bangkit dari zona merah. Para investor tampaknya masih mengambil sikap wait and see terhadap pengumuman MSCI yang akan berpengaruh pada sejumlah saham.

Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) memandang, ada faktor lain yang mempengaruhi daya tarik investasi pasar modal dimata investor asing. Hal itu sebagai pilihan di tengah pasar keuangan saat ini yang sedang tertekan dari berbagai arah seperti geopolitik global yang memberikan efek domino sejumlah industri.


Chief Investment Officer Danantara Pandu Sjahrir berpendapat, dunia korporasi di Indonesia perlu daya tawar yang menarik seperti yang dilakukan negara lain. Misalnya saja dari yang sebelumnya bertumpu pada sektor energi dan perbankan beralih ke industri teknologi dan kecerdasan buatan.

Sebab, para regulator pasar modal dianggap telah merespons antisipasi penyesuaian kebijakan MSCI dengan sangat baik.

"Jadi, bisa dibilang ini soal MSCI. Menurut saya, masalah MSCI sudah relatif teratasi. Mungkin ini soal kreativitas," ujarnya di gedung Bursa Efek Indonesia, dikutip Selasa (12/5/2026).

Pandu mengungkapkan, jika dilihat secara kinerja, bursa terbaik di Asia hanya Taiwan dan Korea berkat teknologi dan industri kecerdasan buatan.

"Kenapa? Karena the story today di dunia itu hanyalah soal AI. Malah sekarang bukan lagi soal Artificial Intelligence, sekarang sudah mulai ngomong soal General Intelligence atau AGI," ungkapnya.

Menurutnya, daya tarik investasi di pasar modal saat ini mengalami penurunan karena dinamika yang terjadi. "Karena kalau anda lihat tentang Indonesia, kita turun year to date 20%, dinamika di Indonesia yang listed hanya apa? Bank dan mining companies," ucapnya.

Ia membandingkan dengan bursa Taiwan yang memiliki Taiwan Semiconductor Manufacturing Company (TSMC) yang merupakan perusahaan perancang sekaligus produsen semikonduktor berbasis kontrak multinasional asal Taiwan.

"Di Taiwan ada satu perusahaan TSMC, satu perusahaan TSMC market capnya lebih besar dari seluruh Asia Tenggara. Satu, itu Taiwan. Korea year to date kurang lebih 80% karena has to do with AI," imbuhnya.

Ia menyayangkan fundamental pasar modal Indonesia yang masih didominasi oleh industri tradisional. "Belum ada satupun yang mengikuti trend AI. Padahal untuk AI berkembang seharusnya business energy yang mengikuti itu," katanya.

Pandu mengaku, memang secara saham produk perbankan masih mencatat pertumbuhan yang cerah. Namun, perlu penyegaran dan inovasi baru agar tidak tertinggal dengan negara-negara lain.

"Dari 15 tahun terakhir, I think banks you can hold 10-11 hari ini saya cek mandiri 11% dividend yield. I don't think it's ever touch that low. Jadi anda bayangin kalau sebagai seorang investor ini pasti sangat murah. Tapi what's the growth story? who is the next TSMC disini? Who can actually capitalize energy menjadi AI?," tutupnya.


(fsd/fsd) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Risiko RI Keluar Dari Indeks Emerging Market Mereda