MARKET DATA

Prabowo dan Purbaya-Bos BI-OJK Rapat Sampai Malam, Ini Isinya!

Emir Yanwardhana,  CNBC Indonesia
06 May 2026 13:48
(Kiri-Kanan) Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Friderica Widyasari, Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, Menko Perekonomian, Airlangga Hartarto, Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, dan Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin
Foto: (Kiri-Kanan) Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Friderica Widyasari, Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, Menko Perekonomian, Airlangga Hartarto, Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, dan Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Anggito Abimanyu saat menyampaikan keterangan pers di Istana Negara, Jakarta, Selasa (5/5/2026). (CNBC Indonesia/Emir Yanwardhana)

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Prabowo Subianto memimpin rapat terbatas dengan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) di Istana Merdeka, hingga malam hari, Selasa (5/5/2026). Rapat itu membahas terkait kondisi perekonomian nasional hingga pelemahan mata uang Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat.

Dari rapat itu dihadiri seluruh anggota KSSK, hingga Menteri Koordinator bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, CEO BPI Danantara Rosan Roeslani, Menteri Koordinator bidang Pangan Zulkifli Hasan, Menteri Koordinator bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Wilayahan Agus Harimurti Yudhoyono, dan menteri - kepala lembaga lainnya.

Dari pantauan CNBC Indonesia, para menteri sudah mulai berdatangan sekitar pukul 16.30 WIB, hingga memberikan keterangan pers usai rapat pada 19.42 WIB.

Dari rapat itu pemerintah melaporkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I - 2026 mencapai 5,61%, melampaui proyeksi sejumlah lembaga internasional dan berada di atas beberapa negara G20 seperti Tiongkok, Singapura, dan Amerika Serikat.

" Pertumbuhan ini ditopang oleh konsumsi masyarakat yang kuat serta kinerja ekspor-impor yang positif," mengutip Instagram @sekretariat.kabinet, Rabu (6/5/2026).

Selain itu, kondisi inflasi juga ditekan pada angka 2,42%, serta pertumbuhan dana pihak ketiga hingga 13,55% dan pertumbuhan kredit 9,49%. Hal itu menunjukan kepercayaan yang tinggi terhadap sistem keuangan di dalam negeri.

Dalam kesempatan itu juga dibahas mengenai pelemahan Rupiah yang kini tembus pada level Rp 17.300 - Rp 17.400 per US$ karena tekanan dari dinamika global.

Merespons hal itu, Pemerintah bersama Bank Indonesia (BI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memastikan pengawalan ketat terhadap nilai tukar Rupiah yang saat ini memiliki potensi besar untuk kembali menguat. Melalui sinergi kebijakan fiskal dan moneter yang erat.

"Pemerintah dan BI menyepakati 7 langkah strategis," tulis keterangan itu.

Langkah ini mencakup penguatan intervensi pasar valas, koordinasi optimalisasi Surat Berharga Negara (SBN), penjagaan likuiditas, hingga penyesuaian batas pembelian dolar domestik demi menjaga stabilitas sistem keuangan.

Pemerintah juga memastikan bahwa ekonomi Indonesia sedang berada dalam fase ekspansi yang kuat.

Lebih lanjut, untuk menjaga momentum pertumbuhan ini, pemerintah mengeksekusi beberapa langkah strategis seperti Penerbitan Panda Bonds di Tiongkok untuk diversifikasi pembiayaan dengan bunga kompetitif, mengurangi ketergantungan pada Dolar AS, dan menyiapkan peluncuran stimulus tambahan untuk terus mendorong aktivitas ekonomi masyarakat dan dunia usaha di triwulan kedua.

Selain itu, pemerintah juga melaporkan perkembangan regulasi terkait devisa hasil ekspor sumber daya alam (DHE SDA) yang akan segera diberlakukan.

"Rapat terbatas ini menegaskan arah kebijakan Presiden Prabowo yakni menjaga stabilitas sebagai fondasi utama dan memastikan bahwa pertumbuhan tetap inklusif serta berkelanjutan. Di tengah ketidakpastian global, Indonesia menunjukkan ketahanan dan terus melaju dengan optimisme," tulis keterangan itu.

(haa/haa) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article BI Umumkan Jadwal Rapat Dewan Gubernur 2026, Catat!


Most Popular
Features