IHSG Turun 19%-Rupiah All Time Low, OJK Tidak Tinggal Diam

Zefanya Aprilia, CNBC Indonesia
Selasa, 05/05/2026 17:42 WIB
Foto: Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi saat Konferensi Pers Asesmen Sektor Jasa Keuangan dan Kebijakan OJK Hasil RDKB Maret 2026. (YouTube/Otoritas Jasa Keuangan)

Jakarta, CNBC Indonesia — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) membeberkan sejumlah langkah antisipasi terhadap potensi efek limpahan dari ketidakpastian kondisi geopolitik terhadap pasar saham domestik.

Ketua Dewan Komisioner (DK) OJK, Friderica Widyasari Dewi menyampaikan bahwa pihaknya dengan self regulatory organization (SRO) telah memperpanjang masa berlaku kebijakan buyback saham tanpa rapat umum pemegang saham (RUPS), kemudian penundaan implementasi pembiayaan transaksi short selling, kebijakan trading hold, batasan auto rejection hingga September 2026.

"Kami mengharapkan dengan adanya kebijakan tersebut akan menjaga stabilitas di pasar saham Indonesia," kata perempuan yang akrab disapa Kiki itu saat Konferensi Pers Asesmen Sektor Jasa Keuangan dan Kebijakan OJK Hasil RDKB April 2026 secara virtual, Selasa (5/5/2026).


Selain itu, ia memastikan agenda reformasi integritas pasar modal terus berlanjut. Kiki menyebut hal itu menjadi fondasi utama untuk meraih kepercayaan investor dan memperkuat kredibilitas sehingga pasar modal dapat semakin tumbuh secara berkelanjutan.

Mempertimbangkan perkembangan terkini, OJK juga telah memperkuat pemantauan aktivitas valuta asing (valas) di lembaga jasa keuangan melalui pemantauan posisi devisa neto harian dan kepatuhan terhadap ketentuan valas terkait secara lebih intensif, serta supervisory dialogue dengan lembaga jasa keuangan.

Lebih lanjut, Kiki mengatakan pihaknya terus berkoordinasi dan bersinergi dengan lembaga-lembaga di Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) dan juga kementerian lembaga terkait untuk memastikan agar sektor keuangan tetap stabil dan resilient di tengah gejola global.

"Kemudian kalau kita melihat ya, stabilitas yang kita jaga ini tentunya akan menjadi modalitas utama untuk kita terus mendorong pertumbuhan ke depan," tuturnya.

Seperti diketahui, Indeks Harga Saham Gabungan sudah turun 19,33% secara year to date (ytd) atau sepanjang tahun ini. Sementara itu, rupiah menembus rekor terlemahnya, yakni Rp17.410 per dolar Amerika Serikat (AS).

Kiki menyebut ketidakpastian kondisi geopolitik global yang berkepanjangan memang berpotensi memberikan tekanan pada perekonomian global. Hal ini tercermin pada meningkatnya volatilitas pasar keuangan, kemudian tingkat inflasi global, serta tentunya aliran dana keluar dari mayoritas emerging market.

Dalam rangka mengantisipasi dampaknya terhadap stabilitas sektor jasa keuangan, OJK terus melakukan pemantauan secara intensif terhadap kinerja sektor jasa keuangan, termasuk melakukan stress test dengan berbagai skenario, serta melakukan penguatan pengawasan.


(mkh/mkh) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: OJK Kembali "Kopdar" Dengan MSCI Bahas Reformasi Bursa