MARKET DATA

Laba United Tractors (UNTR) Anjlok 80%, Ada Apa?

Mentari Puspadini,  CNBC Indonesia
30 April 2026 16:28
Pabrik Pengolahan Emas di Tambang Martabe, Sumatra Utara Milk Agincourt Resources.
Foto: PT Agincourt Resources

Jakarta, CNBC Indonesia - Emiten Grup Astra PT United Tractors Tbk (UNTR) mengumumkan penurunan laba bersih 80% sepanjang kuartal I-2026. Laba UNTR tertekan dari operasional tambang emas yang sempat berhenti.

Menurut laporan keuangan terbaru, laba UNTR tercatat sebesar Rp643 miliar per 31 Maret 2026. Di tahun lalu, labanya tercatat sebesar Rp3,18 triliun.

Beriringan, pendapatan bersih UNTR tercatat sebesar Rp28,6 triliun. Angka ini turun 17% dari Rp34,3 triliun pada periode yang sama di tahun 2025.

Pendapatan bersih tersebut terutama berasal dari Rp11,9 triliun dari segmen Kontraktor Penambangan, yang turun 6% lebih rendah dari periode yang sama di tahun. Selain itu, Rp8,0 triliun berasal dari segmen Pertambangan Batu Bara Termal dan Metalurgi, 13% lebih tinggi dari periode yang sama di tahun lalu.

Selain itu, pendapatan juga disokong Rp7,5 triliun dari segmen Mesin Konstruksi, 31% lebih rendah dari periode yang sama di tahun lalu. Selain itu, segmen Pertambangan Emas dan Mineral Lainnya tercatat sebesar Rp691,6 miliar, 76% lebih rendah dari periode yang sama di tahun lalu.

"Penurunan ini terutama disebabkan oleh penurunan signifikan di PT Agincourt Resources karena tidak adanya penjualan emas, serta kinerja yang lebih rendah pada segmen Mesin Konstruksi dan Kontraktor Penambangan sebagai dampak penurunan alokasi RKAB batu bara nasional tahun 2026," sebagaimana dikutip dari keterangan resmi perseroan, Kamis, (30/4/2026).

Diketahui, usaha pertambangan emas Perseroan dioperasikan oleh PT Agincourt Resources dan PT Sumbawa Jutaraya, yang mencatatkan total penjualan setara emas sebesar 4 ribu ons sampai dengan triwulan pertama tahun 2026, 93% lebih rendah dari periode yang sama di tahun lalu. Pada bulan Maret 2026, Tambang Emas Martabe telah menerima persetujuan dari Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) untuk melanjutkan operasional.

Meski demikian, perseroan mengatakan, penurunan ini sebagian dapat diimbangi oleh peningkatan pendapatan dari sektor Pertambangan Batu Bara Termal dan Metalurgi, terutama disebabkan oleh harga rata-rata batu bara yang lebih tinggi.

Laba bersih Perseroan tidak termasuk nonrecurring charges turun 44% menjadi Rp1,8 triliun, terutama karena tidak adanya penjualan emas dari PT Agincourt Resources dan pendapatan yang lebih rendah yang sebagian besar mencerminkan dampak dari penurunan alokasi RKAB batu bara nasional tahun 2026.

Selama kuartal pertama tahun 2026, Perseroan mencatat non-recurring charges senilai Rp1,2 triliun, terutama terdiri dari pembayaran terkait kegiatan sebelumnya di kawasan hutan, sehubungan dengan Persetujuan Pemanfaatan Kawasan Hutan (PPKH) di tambang nikel Stargate dan provisi penurunan nilai atas investasi panas bumi PT Supreme Energy Rantau Dedap.

(fsd/fsd) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Usai Caplok Tambang Emas, UNTR Kini Dirikan Perusahaan Nikel Baru


Most Popular
Features