MARKET DATA

Laba Bersih Kimia Farma (KAEF) Kuartal I-2026 Rp123,6 Miliar

Romys Binekasri,  CNBC Indonesia
30 April 2026 16:50
Ilustrasi Kimia Farma. (CNBN Indonesia/Faisal Rahman)
Foto: Ilustrasi Kimia Farma. (CNBN Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia — PT Kimia Farma (Persero) Tbk (KAEF) mencatat laba bersih tahun berjalan hingga kuartal I tahun ini sebesar Rp123,6 miliar, dibandingkan dengan kuartal I tahun 2025 di mana perseroan mencatatkan rugi bersih sebesar Rp126,4 miliar.

Sementara laba kotor tumbuh 11,06% secara tahunan (yoy) menjadi Rp824,8 miliar dibanding Rp742,6 miliar di kuartal I 2025. Peningkatan ini didorong oleh efisiensi beban pokok penjualan yang berhasil ditekan secara signifikan sebagai hasil dari transformasi rantai pasok.

Sedangkan EBITDA KAEF mencapai Rp153,8 miliar atau tumbuh 61,29% dibanding Rp95,4 miliar di kuartal I 2025. Hal ini mencerminkan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan arus kas yang kuat dari aktivitas operasional inti.

Direktur Utama Kimia Farma Djagad Prakasa Dwialam mengatakan kunci utama dari pemulihan ini merupakan keberhasilan restrukturisasi keuangan yang dijalankan sejak dua tahun lalu serta transformasi model bisnis yang lebih ramping dan efisien.

"Salah satu program efisiensi yang berhasil dilakukan oleh Perseroan adalah melakukan penataan Sumber Daya Manusia (SDM) dan struktur organisasi dengan tetap memenuhi aspek kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan serta prinsip good corporate governance," tulis manajemen dalam keterangan resminya, Kamis (30/4/2026).

Menurutnya, dukungan dari Danantara Asset Management dan Bio Farma selaku pemegang saham juga menjadi salah satu enabler utama dalam proses transformasi yang dijalankan Perseroan.

"Selama kuartal I 2026, peran Danantara melalui Bio Farma sangat krusial dalam memberikan dukungan pendanaan strategis yang menjaga stabilitas likuiditas perusahaan dan mempercepat proses restrukturisasi utang, sehingga beban bunga dapat dikelola secara lebih optimal," jelasnya.

KAEF telah melakukan transformasi yang berfokus pada penguatan fundamental bisnis melalui enam pilar strategi, yaitu ketahanan modal kerja, penguatan kompetensi SDM, digitalisasi proses bisnis, efisiensi operasional, penguatan tata kelola perusahaan (GCG), dan sinergi antar-entitas KAEF Grup.

Sejalan dengan strategi tersebut, Perseroan juga melakukan penajaman fokus bisnis dengan mengutamakan pengembangan dan pemasaran produk dengan margin yang lebih tinggi, serta tetap berkomitmen untuk menyediakan obat untuk mendukung program pemerintah guna menjaga aksesibilitas layanan kesehatan masyarakat.

Di sisi lain, transformasi digital terus berjalan sebagai bagian dari upaya peningkatan efisiensi dan kualitas layanan, mencakup penguatan sistem operasional, supply chain, serta integrasi data untuk mendukung pengambilan keputusan yang lebih cepat dan akurat.

Namun demikian, dia menambahkan dinamika global yang masih diwarnai ketidakpastian, termasuk dampak konflik geopolitik dan perlambatan perekonomian dunia, telah mendorong kenaikan harga bahan baku serta tekanan pada nilai tukar rupiah.

Dalam beberapa waktu terakhir, Ia mengaku pelemahan rupiah memberikan tantangan tersendiri bagi industri farmasi, termasuk Perseroan, mengingat sebagian bahan baku masih bergantung pada impor dan berdenominasi mata uang asing.

"Kondisi ini berpotensi meningkatkan biaya produksi serta menekan margin, khususnya pada produk-produk dengan struktur harga yang lebih rigid, seperti obat program pemerintah," sebutnya.

Namun, KAEF telah mengantisipasi dinamika tersebut melalui sejumlah langkah strategis yang terukur. Perseroan terus memperkuat pengelolaan biaya secara menyeluruh, baik pada komponen harga pokok produksi maupun biaya operasional, guna menjaga efisiensi dan daya saing.

Di sisi lain, Perseroan terus melakukan optimalisasi portofolio produk dengan mendorong kontribusi produk-produk dengan margin yang lebih sehat serta memperkuat posisi di segmen yang memiliki fleksibilitas harga.

Selain itu, Perseroan secara melakukan pengelolaan risiko nilai tukar melalui pengaturan waktu pembelian bahan baku, diversifikasi pemasok, serta upaya peningkatan penggunaan bahan baku lokal secara bertahap.

"Ke depan, Perseroan akan terus menjaga keseimbangan antara ketahanan operasional dan keberlanjutan pertumbuhan, dengan tetap memastikan ketersediaan produk bagi masyarakat serta menjaga kinerja keuangan yang sehat di tengah dinamika global yang sedang terjadi," tutupnya.

(mkh/mkh) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article BP BUMN: Merger BUMN Karya Rampung Kuartal I-2026


Most Popular
Features