IHSG Kembali Hijau di Pagi Hari, Dibuka Naik 0,34%
Jakarta, CNBC Indonesia — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali dibuka di zona hijau hari ini, Rabu (29/4/2026).
IHSG pada awal perdagangan naik 24,22 poin atau 0,34% ke level 7.096,61. Sebanyak 274 saham naik, 76 turun, dan 609 belum bergerak.
Nilai transaksi pagi ini mencapai Rp 243 miliar, melibatkan 788,6 juta saham dalam 33.950 kali transaksi. Kapitalisasi pasar pun naik menjadi Rp 12.631 triliun.
Memasuki perdagangan Rabu (29/4/2026), pelaku pasar keuangan Tanah Air akan mencermati sejumlah sentimen penting dari luar negeri. Fokus utama pasar hari ini tertuju pada perkembangan terbaru negosiasi Amerika Serikat (AS)-Iran, arah harga minyak dunia, keputusan Bank Sentral Jepang atau Bank of Japan (BOJ), serta keputusan suku bunga The Federal Reserve.
Presiden AS Donald Trump disebut tidak puas dengan proposal terbaru Iran untuk mengakhiri perang yang sudah berlangsung sekitar dua bulan.
Proposal terbaru Iran disebut ingin menunda pembahasan soal program nuklir hingga perang berakhir dan persoalan jalur pelayaran di Teluk diselesaikan terlebih dahulu. Namun, posisi ini sulit diterima Washington karena AS ingin isu nuklir Iran dibahas sejak awal proses negosiasi.
Seorang pejabat AS mengatakan Trump tidak senang dengan proposal tersebut karena pembahasan program nuklir justru ingin dikesampingkan lebih dulu oleh Iran. Sementara itu, Gedung Putih menegaskan tidak akan bernegosiasi melalui media dan menyebut AS sudah jelas mengenai garis merahnya.
Sentimen besar berikutnya datang dari bank sentral Amerika Serikat. The Federal Reserve menggelar rapat Federal Open Market Committee (FOMC) selama dua hari, yakni Selasa-Rabu (28-29 April 2026).
Keputusan suku bunga The Fed akan diumumkan pada Rabu malam waktu AS atau Kamis dini hari waktu Indonesia.
Agenda ini menjadi salah satu sentimen paling penting bagi pasar global karena akan menentukan arah dolar AS, yield obligasi AS, hingga selera risiko investor terhadap aset negara berkembang.
Berdasarkan pantauan CME FedWatch Tool, pelaku pasar sepenuhnya memperkirakan The Fed akan menahan suku bunga acuannya. Probabilitas The Fed mempertahankan suku bunga di level saat ini, yakni 3,50%-3,75%, tercatat mencapai 100% untuk FOMC April ini.
Ekspektasi tersebut muncul karena inflasi AS masih berada di atas target The Fed. Di sisi lain, lonjakan harga energi akibat konflik Timur Tengah membuat bank sentral AS sulit bergerak terlalu cepat untuk melonggarkan kebijakan.
Sementara itu, UEA resmi keluar dari OPEC pada Selasa, mengguncang kelompok produsen minyak dunia di tengah krisis energi akibat perang Iran. Langkah ini dinilai melemahkan pengaruh OPEC sekaligus memperlebar jarak antara Abu Dhabi dan Arab Saudi sebagai pemimpin de facto kartel minyak.
Keluarnya UEA membuka peluang negara itu menaikkan produksi saat jalur ekspor Teluk kembali normal, karena tak lagi terikat kuota OPEC. Menteri Energi UEA Suhail Al Mazrouei menyebut keputusan tersebut diambil usai meninjau strategi energi nasional dan kebutuhan energi global ke depan.
Analis menilai langkah ini berpotensi menekan harga minyak dalam jangka menengah karena UEA memiliki kapasitas produksi cadangan besar, salah satu yang terbesar setelah Saudi. Jika UEA memompa lebih banyak minyak, dominasi Riyadh dalam menjaga keseimbangan pasar bisa mulai terganggu.
Keputusan ini juga menegaskan rivalitas UEA dan Saudi yang makin terbuka, mulai dari kebijakan minyak hingga perebutan investasi dan pengaruh di kawasan Teluk.
(mkh/mkh) Add
source on Google