MARKET DATA

Laba Emiten Farmasi Ini Melonjak 113%, Ternyata Gara-Gara Jualan Ini

Romys Binekasri,  CNBC Indonesia
24 April 2026 12:30
Phapros
Foto: dok Phapros

Jakarta, CNBC Indonesia - Emiten farmasi PT Phapros Tbk (PEHA) membukukan pertumbuhan laba bersih signifikan yang mencapai 112,86% pada kuartal I-2026. Profitabilitas Phapros pada kuartal I/2026 ditopang oleh kenaikan penjualan sebesar 10,17% menjadi Rp221,09 miliar dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2025 sebesar Rp200,67 miliar.

Di sisi lain, biaya produksi barang atau beban pokok penjualan (cost of goods sold/COGS) pada kuartal 1/2026 hanya naik 5,04%, lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan penjualan. Alhasil, laba kotor perusahaan naik 16,59% menjadi Rp103,96 miliar dibandingkan dengan periode kuartal I/2025 Rp89,17 miliar.

Di samping mampu menjaga stabilitas COGS, beban usaha Phapros pada Januari - Maret 2026 juga relatif stabil hanya naik 7,35% y-o-y. Pertumbuhan penjualan yang cukup signifikan dan kemampuan menjaga stabilitas COGS dan beban usaha, membuat Phapros mencetak laba bersih pada kuartal I/2026 sebesar Rp761,49 juta, naik 112,86% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya yang masih mengalami kerugian Rp5,92 miliar.

Arus kas perusahaan per 31 Maret 2026 positif sebesar Rp37,2 miliar, naik 289% dibandingkan dengan posisi per 31 Maret 2025 yang masih minus Rp19,6 miliar. Saldo kas di akhir periode juga naik 165% dibanding akhir Maret 2025.

Plt. Direktur Utama PT Phapros Tbk, Ida Rahmi Kurniasih mengatakan bahwa di tengah dinamika global yang penuh ketidakpastian, Phapros mampu menjaga kinerja keuangan dengan baik sehingga berhasil mencetak laba bersih. 

"Berbagai langkah strategis tersebut berhasil menjaga profitabilitas berkelanjutan. Setelah berhasil membalikkan kondisi dari rugi pada 2024 menjadi profit pada 2025, kami terus berupaya untuk menjaga profitabilitas perusahaan. Hal ini tercermin dari kinerja keuangan pada kuartal 1/2026 dengan pertumbuhan laba bersih mencapai 113%. Menyikapi dampak geopolitik yang menyebabkan kenaikan harga bahan dan biaya, kami sudah melakukan mitigasi risiko dengan kontrak pembelian sejak awal tahun dan terus memantau perkembangan agar tetap adaptif. Tujuannya agar target penjualan, biaya dan laba bersih hingga akhir tahun sesuai RKAP bisa diamankan," ujar Ida, Jumat (24/4/2026).

Obat generik bermerek (OGB) menjadi salah satu penopang pertumbuhan penjualan pada Januari-Maret 2026. Penjualan OGB pada kuartal I/2026 melonjak 59% menjadi Rp128,70 miliar dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu Rp80,88 miliar. Kontribusi Obat Anti Tuberkulosis untuk Dewasa dan Anak serta Tablet Tambah Darah yang merupakan program penting pemerintah terkait TB, anemia dan stunting merupakan bentuk komitmen PEHA dalam menyehatkan masyarakat Indonesia.

(ayh/ayh) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Mulai Hari Ini Kalbe Farma (KLBF) Bakal Buyback Saham Rp250 Miliar


Most Popular
Features