Selat Hormuz Tutup, 1 Miliar Barel Minyak Hilang

Romys Binekasri, CNBC Indonesia
Rabu, 22/04/2026 09:48 WIB
Foto: minyak dunia

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar minyak dunia kehilangan setidaknya 1 miliar barel akibat perang di Iran. CEO Vitol Russell Hardy mengatakan, selain minyak mentah, produk olahan juga ikut terimbas konflik Timur Tengah yang masih berlangsung.

Pemimpin Vitol sejak 2018 tersebut mengatakan, serangan terhadap infrastruktur energi di Teluk dan penutupan Selat Hormuz telah mengakibatkan hilangnya sekitar 12 juta barel produksi minyak per hari sejak AS dan Israel pertama kali membom Iran pada akhir Februari lalu.

"Secara kasar, angka 1 miliar [barel] sudah diperhitungkan sekarang karena kita mungkin telah kehilangan 600 juta hingga 700 juta pada tahap ini, tetapi saat situasi mulai bergerak lagi jika memang bergerak lagi diperlukan waktu untuk memulihkan kembali semua [infrastruktur yang ditutup atau rusak]," kata Hardy dalam FT Commodities Global Summit di Lausanne, dikutip Rabu (22/4/2026).


Kepala perusahaan minyak terbesar di dunia tersebut mengatakan bahwa perang ini merupakan gangguan terbesar di pasar energi selama dirinya yang berkarir hampir 40 tahun. Bahkan lebih parah dari konflik antara Irak dan Kuwait tahun 1990.

"Saat ini, semua kapasitas cadangan berada di belakang Selat Hormuz, sehingga dampaknya jelas sangat langsung," ungkapnya.

Para pedagang komoditas telah berulang kali memperingatkan bahwa dampak dari penutupan Selat Hormuz masih jauh dari berakhir, bahkan jika Gedung Putih dan Iran mencapai kesepakatan dalam beberapa hari mendatang.

Pelaku pasar telah memperingatkan akan terjadinya guncangan pangan global akibat pasokan pupuk yang rendah menyusul hilangnya pasokan gas dari Timur Tengah. Apalagi, adanya perlambatan penambangan tembaga akibat hilangnya pasokan asam sulfat dari Teluk, sementara risiko kekurangan energi meningkat setiap hari selama selat tersebut tetap ditutup.

Hilangnya 1 miliar barel setara dengan sekitar 10 hari konsumsi minyak global dan lebih dari dua kali lipat jumlah yang dilepaskan dari cadangan strategis dalam upaya untuk memitigasi dampak terhadap pasokan energi.

Hal senada juga dikatakan oleh Kepala eksekutif Gunvor, Gary Pedersen, yang memperingatkan akan adanya dampak serius akibat penutupan Selat Hormuz yang terus berlanjut.

"Ketika Anda menghentikan pasokan energi sebesar itu melalui rantai pasokan selama ini dan berpotensi lebih lama lagi, konsekuensi dari hal ini sangat nyata," katanya.

Frederic Lassere, kepala riset di Gunvor, memprediksi bahwa perang akan memicu resesi global jika Selat Hormuz tidak dibuka kembali pada akhir Juli.

"Jika kita tidak mendapatkan pembukaan kembali [selat] dalam tiga bulan ke depan, maka ini akan menjadi masalah makro di mana dunia terjerumus ke dalam resesi," katanya.

Sementara Richard Holtum yang merupakan CEO Trafigura, berargumen bahwa meskipun ekonomi akan terpukul oleh harga yang lebih tinggi, negara-negara terkaya seharusnya dapat menghindari kekurangan fisik yang nyata.

Holtum mengatakan situasi ini mirip dengan krisis gas di Eropa pasca invasi besar-besaran Rusia ke Ukraina pada tahun 2022. "Eropa kehilangan sepertiga pasokan gasnya, tetapi Eropa tidak mengalami pemadaman listrik," katanya, sambil menambahkan bahwa harga memang melonjak, tetapi tidak ada kekurangan pasokan.

"Hal yang persis sama akan terjadi di sini. Negara-negara kaya akan melindungi konsumen mereka dan negara-negara yang kurang mampu membayar akan menderita akibat penurunan permintaan," imbuhnya.

Para pedagang dan analis tetap skeptis terhadap kemampuan AS untuk mencapai kesepakatan yang mengarah pada pembukaan kembali selat tersebut dengan cepat.

Helima Croft, kepala strategi komoditas global di RBC Capital Markets, mengatakan bahwa pasar ekuitas AS diperdagangkan mendekati level tertinggi sepanjang masa, sebagian karena para pedagang salah bertaruh pada penyelesaian yang cepat.

"Saya berpikir ada juga anggapan bahwa Presiden [Donald] Trump bisa saja duduk di Gedung Putih dan menyelesaikan masalah ini," katanya.

"Orang-orang terus bilang, 'yah, dia bisa saja mundur', tapi sekali lagi, butuh dua pihak untuk 'Taco'," tambahnya.


(ayh/ayh) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: AS-Iran Lanjutkan Negosiasi Hingga IHSG & Rupiah Kompak Menguat