IHSG Tutup di Zona Merah, Tertekan Saham DSSA dan BREN
Jakarta, CNBC Indonesia — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memangkas koreksi pada akhir perdagangan hari ini, Selasa (21/4/2026). Indeks ditutup di level 7.559,38, turun 0,46% atau -34,73 poin.Â
Sepanjang hari ini, IHSGÂ konsisten berada di zona merah dengan level terendah di 7.511,83 dan tertinggi 7.568,99. Sebanyak 405 saham naik, 283 turun, dan 271 tidak bergerak.Â
Nilai transaksi mencapai Rp 17,8 triliun, melibatkan 41,14 miliar saham dalam 2,68 juta kali transaksi. Kapitalisasi pasar pun terkoreksi menjadi Rp 13.443 triliun.Â
Mengutip Refinitiv, mayoritas sektor sebenarnya berada di zona hijau hari ini. Akan tetapi koreksi tajam di tiga saham membuat IHSGÂ tidak mampu menembus zona hijau.Â
Terpantau Dian Swastatika Sentosa (DSSA) dan Barito Renewables Energy (BREN) ambruk seiring dengan kemungkinan didepak dari indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI).Â
DSSA turun hingga menyentuh batas auto reject bawah (ARB) atau 14,98% ke level 2.780 dan menyeret IHSG turun sebanyak -43,21 poin. Kemudian BREN yang turun 9,47% berkontribusi -23,06 poin.Â
Sebagaimana diberitakan sebelumnya MSCI menegaskan bahwa saham yang masuk dalam kategori High Shareholding Concentration (HSC) berpotensi dikeluarkan dari indeks, mengikuti kebijakan global yang berlaku.
Dalam konteks tersebut, BREN dan DSSA termasuk dalam daftar 9 saham HSC yang dirilis Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Kustodia Sentral Efek Indonesia (KSEI).
Tercatat, BBRI juga masuk dalam daftar top laggards. BBRI menyeret IHSG sebesar 26,66 poin. Emiten bank jumbo ini koreksi 4,94% seiring dengan memasuki periode ex dividend hari ini.
IHSGÂ diperkirakan masih akan bergerak fluktuatif seiring dengan pasar yang merespon pengumuman terbaru dariMSCI.Â
MSCI telah mengumumkan pembaruan terkait evaluasi free float sekuritas Indonesia per 20 April 2026, sebagai tindak lanjut dari kebijakan pembekuan rebalancing indeks yang telah disampaikan sebelumnya pada Januari 2026.
Dalam pernyataannya, MSCI menyoroti adanya kebijakan reformasi transparansi pasar modal yang dilakukan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), BEI, dan KSEI.
Dalam tinjauan indeks Mei 2026, MSCI memutuskan untuk mempertahankan kebijakan sementara, yakni tetap membekukan peningkatan Foreign Inclusion Factor (FIF) dan Number of Shares (NOS), tidak menambahkan saham baru ke dalam indeks MSCI Investable Market Indexes (IMI), serta tidak melakukan kenaikan kelas saham antar segmen kapitalisasi.
Selain itu, MSCI dapat menggunakan data keterbukaan pemegang saham 1% untuk menyesuaikan estimasi free float jika diperlukan. Namun, data baru lainnya belum akan dimasukkan dalam perhitungan indeks hingga proses evaluasi selesai dan masukan dari pelaku pasar telah dipertimbangkan.
Ke depan, MSCI membuka ruang bagi masukan dari pelaku pasar terkait efektivitas kebijakan baru tersebut. Pembaruan lanjutan diharapkan akan disampaikan dalam Market Accessibility Review yang dijadwalkan pada Juni 2026.
Terpisah, PJS Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik mengatakan, pihaknya telah bertemu dengan MSCI tanggal 16 April 2026. Ia pun mengapresiasi bahwa empat proposal yang diajukan bersama SRO telah diterima oleh MSCI.
"Kami akan terus berkomunikasi dengan index provider. Kami juga akan terus berkomunikasi dengan investor global untuk memperoleh masukan untuk penguatan pasar modal ke depan," ujar Jeffrey Selasa, (21/4/2026).
Lebih teknis, Jeffrey tak menampik kemungkinan adanya pengumuman atas perlakuan khusus High Concentration Shareholders (HSC) untuk saham-saham yang masuk indeks MSCI, seperti DSSA dan BREN. Diketahui, MSCI menyebut akan mengeluarkan emiten yang masuk daftar HSC dari indeksnya.
"Akan segera diumumkan," jawab Jeffrey singkat terkait saham-saham HSC di indeks MSCI.
(mkh/mkh) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]