MARKET DATA

Rupiah Menguat, Nilai Tukar Dolar AS Turun ke Rp17.165

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
20 April 2026 15:04
Petugas menunjukkan uang pecahan dolar AS dan rupiah di gerai penukaran mata uang asing di tempat penukaran uang PT Ayu Masagung, Jakarta, Senin (18/11/2024). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)
Foto: Petugas menunjukkan uang pecahan dolar AS dan rupiah di gerai penukaran mata uang asing di tempat penukaran uang PT Ayu Masagung, Jakarta, Senin (18/11/2024). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah berhasil ditutup menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan awal pekan, Senin (20/4/2026).

Melansir data Refinitiv, mata uang Garuda mengakhiri perdagangan di zona hijau dengan penguatan sebesar 0,09% ke level Rp17.165/US$. Penguatan ini sekaligus membalikkan posisi rupiah setelah pada perdagangan sebelumnya, Jumat (17/4/2026), ditutup melemah tajam 0,32% di level Rp17.180/US$.

Sepanjang perdagangan hari ini, rupiah memang sudah dibuka menguat. Pada awal sesi, rupiah sempat terapresiasi hingga 0,15% ke level Rp17.140/US$. Meski penguatannya sedikit terpangkas menjelang penutupan, rupiah tetap mampu bertahan di zona positif.

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) pada pukul 15.00 WIB terpantau masih menguat 0,22% ke level 98,310.

Penguatan rupiah pada perdagangan hari ini terjadi di tengah masih menguatnya indeks dolar AS.

Artinya, rupiah mampu melawan dominasi greenback, setidaknya untuk sementara, di tengah sentimen pasar yang masih cenderung memburu aset berdenominasi dolar AS sebagai safe haven akibat ketidakpastian konflik di Timur Tengah.

Dolar AS pada pagi tadi sempat menguat ke level tertinggi dalam sepekan terhadap mata uang utama dunia, sebelum memangkas sebagian penguatannya.

Pergerakan ini terjadi setelah ketegangan antara AS dan Iran kembali meningkat, sekaligus memudarkan harapan pasar terhadap tercapainya kesepakatan damai di Timur Tengah.

Amerika Serikat pada Minggu menyatakan telah menyita kapal kargo Iran yang mencoba menerobos blokade. Di sisi lain, Iran menegaskan akan melakukan pembalasan, sehingga kembali memicu kekhawatiran pasar atas potensi pecahnya konflik lanjutan.

Teheran juga menyatakan tidak akan mengikuti putaran kedua perundingan yang sebelumnya diharapkan AS bisa dimulai sebelum masa gencatan senjata dua pekan dengan Iran berakhir pada Selasa.

Mengutip dari Reuters, Chief Investment Strategist Saxo, Charu Chanana, mengatakan eskalasi yang terjadi sepanjang akhir pekan kembali memunculkan premi risiko geopolitik, tepat saat pasar sebelumnya mulai memperhitungkan peluang damai.

Menurut dia, kenaikan harga minyak saat ini bukan semata persoalan energi, tetapi juga berkaitan dengan prospek pertumbuhan ekonomi dan arah suku bunga.

(evw/evw) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Rupiah Dibuka Menguat 0,06%, Dolar AS Jadi Rp16.700 Pagi Ini!


Most Popular
Features