MARKET DATA
CNBC Insight

Anak Orang Penting Hidup Melarat, Ogah Jual Nama Ortu Untuk Sukses

MFakhriansyah,  CNBC Indonesia
19 April 2026 16:00
Relawan Keraton Kraton yang dikenal dengan sebutan 'Abdi Dalem' membawa 'Gunungan' berupa gunungan kurban dalam upacara Grebeg Syawalan dalam rangka perayaan Idul Fitri di Masjid Agung Kauman pada 22 April 2023. di Yogyakarta, Indonesia. Grebeg Syawal merupakan tradisi yang mengikuti bulan suci Ramadan untuk menyambut Idul Fitri. Tradisi tersebut berupa sesaji sayuran, paprika, telur, dan barang-barang lainnya yang disebut 'Gunungan Wadon' dan 'Gunungan Lanang' yang dibawa ke Masjid Raya sebagai bagian dari simbol sedekah Sri Sultan Hamengkubuwono X kepada rakyatnya. Menerima sebagian Gunungan dipercaya membawa keberuntungan dan berkah untuk setahun ke depan. (Ulet Ifansasti/Getty Images)
Foto: Ilustrasi. (Getty Images/Ulet Ifansasti)

Jakarta, CNBC Indonesia — Di tengah fenomena anak pejabat yang kerap meraih jalan mulus berkat nama besar orang tua, kisah hidup Soesalit justru berjalan berlawanan arah. Ia memilih meniti karier tanpa "menjual" nama besar keluarganya, bahkan hingga harus hidup dalam keterbatasan.

Soesalit merupakan putra dari tokoh emansipasi perempuan R.A. Kartini dan Bupati Rembang, Raden Mas Adipati Ario Djojadiningrat. Lahir dari keluarga terpandang, ia sejatinya memiliki peluang besar untuk mengikuti jejak ayahnya sebagai pejabat.

Namun, dalam buku Kartini (2024), Wardiman Djojonegoro menyebut Soesalit menolak kesempatan tersebut. Ia memilih jalan hidupnya sendiri, jauh dari bayang-bayang nama besar orang tuanya.

Alih-alih menjadi pejabat, Soesalit bergabung dengan militer pada 1943. Ia menjalani pelatihan di masa pendudukan Jepang dan kemudian menjadi bagian dari Pembela Tanah Air (PETA). Setelah Indonesia merdeka, ia melanjutkan pengabdian di Tentara Keamanan Rakyat.

Karier militernya berkembang pesat. Dalam biografi yang ditulis Sitisoemandari Soeroto, Soesalit tercatat aktif dalam berbagai pertempuran melawan Belanda. Perannya di medan tempur membuatnya cepat naik pangkat dan dikenal luas di kalangan militer.

Puncak kariernya terjadi pada 1946 saat ia dipercaya menjadi Panglima Divisi II Diponegoro, yang memiliki tugas strategis menjaga ibu kota negara di Yogyakarta. Selain itu, ia juga sempat menjabat sebagai penasihat Menteri Pertahanan pada era Kabinet Ali Sastroamidjojo pada 1953.

Meski memiliki rekam jejak mentereng, Soesalit tetap konsisten menutup rapat identitasnya sebagai putra Kartini. Bahkan di tengah popularitas ibunya, ia tidak pernah memanfaatkan hal tersebut untuk kepentingan pribadi.

Sikap ini juga disaksikan langsung oleh Abdul Haris Nasution. Dalam catatannya, Nasution mengungkap Soesalit memilih hidup sederhana setelah tak lagi aktif bertugas, bahkan cenderung melarat sebagai veteran.

"Dia bisa saja hidup layak dengan mengaku sebagai putra Kartini, tetapi itu tidak dilakukannya," tulis Nasution, seperti dikutip dalam Kartini: Sebuah Biografi (1979).

Prinsip untuk tidak mendompleng nama besar orang tua itu dipegang teguh hingga akhir hayatnya. Soesalit tetap hidup dalam kesederhanaan sampai wafat pada 17 Maret 1962.

Kisahnya menjadi pengingat bahwa kesuksesan tak selalu harus bertumpu pada privilese keluarga, bahkan ketika kesempatan itu terbuka lebar.

Naskah ini merupakan bagian dari CNBC Insight, rubrik yang menyajikan ulasan sejarah untuk menjelaskan kondisi masa kini lewat relevansinya di masa lalu. Khusus terkait bencana, naskah ini diharapkan bisa membangun kesadaran dan kewaspadaan terhadap mitigasi bencana.

(mkh/mkh) Add as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Anak Orang Penting Hidup Melarat, Ogah Jual Nama Ortu Untuk Sukses


Most Popular
Features