Ekonom: Nilai Tukar Terjaga, Tantangan Fiskal Tetap Harus Diwaspadai
Jakarta, CNBC Indonesia - Direktur CORE Indonesia Mohammad Faisal mengungkapkan menjaga stabilitas nilai tukar menjadi langkah penting, terutama untuk meredam efek dari peningkatan harga komoditas akibat perang Amerika Serikat-Israel dengan Iran. Volatilitas dan tekanan nilai tukar terlihat di beberapa negara, termasuk dialami Indonesia.
Meski demikian, volatilitas pada nilai tukar rupiah menurutnya masih cukup rendah dan dapat diredam dengan kebijakan yang tepat.
"Masih bisa diredam, cadangan devisa masih cukup, dampak stabilisasi menurunkan cadangan devisa, namun secara nilai masih bisa diintervensi," ungkap Faisal dalam Central Banking Forum, dengan tema Ketahanan Ekonomi Indonesia dalam Menghadapi Volatilitas Nilai Tukar Global, di Jakarta, Senin (13/4/2026).
Dia menegaskan langkah bank sentral harus diapresiasi, dengan upaya menjaga nilai tukar tanpa menaikkan BI Rate. Faisal menilai ini menjadi hal positif untuk stabilitas nilai tukar ke depan.
Dari sisi inflasi, Indonesia pun masih lebih rendah dibandingkan negara lainnya. Secara nilai Inflasi bulanan lebih rendah di Maret dibandingkan Februari, sementera secara tahunan tidak sampai 3,5%.
"Selain karena nilai tukar stabil, peran pemerintah untuk pertahankan harga BBM domestik, ini sangat penting untuk menjaga inflasi," kata Faisal.
Jika dilihat ke belakang, jika BBM naik, dampak langsung dan tidak langsung adalah ke harga pangan.
"Pernah kami lakukan simulasi, saat bahas stabilitas, yang jadi sorotan adalah tata Kelola fiscal. Jika harga minyak US$ 84 per barel atau lebih dengan nilai tukar Rp 16.800-17.000 subsidi energi yg dibutuhkan lebih dari Rp 100 triliun. Sehingga tata kelola fiskal, jadi tantangan yg sangat besar dan dihindari agar tidak sampai 3%," jelasnya.
Faisal mengapresiasi kebijakan pemerintah yang mempertahankan defisit anggaran tidak lebih dari 3,5%. Untuk itu, dibutuhkan 'ongkos' dan langkah strategis. Yang paling utama adalah efisiensi, sehingga dibutuhkan peninjauan Kembali dan refocusing pada program-program unggulan.
"Ini baik untuk jaga stabilitas, dan kesehatan fiskal, tingkatkan kepercayaan diri dunia usaha," ungkapnya.
Dia juga menilai program hilirisasi mulai terlihat dampaknya sejak awal pandemi, dan mendorong surplus perdagangan, bukan hanya CPO dan batu bara, melainkan juga nikel hingga besi baja.
"Kalau ini terus diperkuat, defisit menipis dan bisa kembali ke surplus, atau current account ini dilihat investor, san pengaruh kekuatan stabilitas nilai tukar rupiah," tegas Faisal.
(rah/rah) Add
source on Google