Breaking! Harga Minyak Meledak 7%, Sentuh US$104

Emanuella Bungasmara Ega Tirta, CNBC Indonesia
Senin, 13/04/2026 10:20 WIB
Foto: minyak dunia

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak dunia kembali bergolak di awal pekan. Kenaikan tajam lebih dari 7% membawa Brent dan West Texas Intermediate (WTI) kembali menembus level psikologis US$100 per barel, dipicu eskalasi terbaru konflik Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Mengacu data Refinitiv per Senin (13/4/2026) pukul 09.45 WIB, harga minyak Brent kontrak Juni (LCOc1) berada di US$102,17 per barel, melonjak dibanding penutupan Jumat pekan lalu di US$95,20 per barel. Sementara minyak mentah AS WTI (CLc1) naik ke US$104,88 per barel, dari posisi sebelumnya US$96,57 per barel.

Lonjakan ini membuat pasar energi kembali panas setelah beberapa sesi sebelumnya harga sempat terkoreksi. Dalam hitungan tiga hari perdagangan, Brent sudah berbalik dari kisaran US$94 menjadi di atas US$102 per barel.


Pemicu utama datang dari keputusan Presiden AS Donald Trump yang menyatakan Angkatan Laut AS akan mulai melakukan blokade terhadap kapal-kapal menuju Iran melalui Selat Hormuz. Langkah ini diumumkan setelah pembicaraan damai Washington dan Teheran gagal menghasilkan kesepakatan untuk mengakhiri perang.

Pasar memandang kebijakan tersebut berpotensi memangkas ekspor minyak Iran hingga sekitar 2 juta barel per hari yang selama ini masih mengalir melalui jalur tersebut. Jika gangguan berlangsung lama, pasokan global akan semakin ketat di tengah permintaan energi yang masih solid.

Selat Hormuz sendiri merupakan urat nadi perdagangan energi dunia. Jalur sempit ini menjadi lintasan utama ekspor minyak dari Timur Tengah menuju Asia, Eropa, dan pasar global lainnya. Setiap ancaman di kawasan itu hampir selalu memicu premi risiko pada harga minyak.

Di sisi lain, Garda Revolusi Iran memperingatkan kapal militer yang mendekati kawasan selat akan dianggap melanggar gencatan senjata dua pekan terakhir dan akan direspons keras. Pernyataan itu memperbesar kekhawatiran pasar bahwa konflik bisa melebar ke gangguan distribusi fisik.

Meski demikian, Arab Saudi menyatakan kapasitas penuh pengiriman minyak melalui pipa East-West telah pulih ke sekitar 7 juta barel per hari. Jalur ini menjadi alternatif penting untuk mengurangi ketergantungan pada Selat Hormuz.

Untuk sementara, pasar bergerak pada satu narasi: selama ketegangan AS-Iran belum reda dan ancaman gangguan pasokan masih terbuka, harga minyak berpotensi tetap bertahan tinggi. Level US$100 kini kembali menjadi arena utama perdagangan energi dunia.

CNBC Indonesia Research


(emb/emb) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Harga Minyak Tembus USD 110 - Rupiah Anjlok ke Rp17.000/USD