MARKET DATA

Bank-Bank Mulai Ngerem Penyaluran Kredit, Fokus Cari Dana Murah

Zefanya Aprilia,  CNBC Indonesia
10 April 2026 11:35
Cover Artikel CNBC Indonesia Best Bank of The Year
Foto: Ilustrasi Bank (CNBC Indonesia/ Edward Ricardo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Industri perbankan mulai memasang mode berhati-hati dalam penyaluran pinjaman di tengah ketidakpastian global. Bank-bank mulai memasang menjaga rasio perbandingan pinjaman terhadap simpanan atau loan to deposit ratio (LDR).

Perbankan kini lebih fokus dalam menjaga kondisi likuiditas, dengan fokus menggenjot pertumbuhan pada dana murah atau current account saving account (CASA).

Seperti PT Bank Mega Tbk. (MEGA) yang menetapkan kebijakan menjaga LDR di kisaran 70%, di bawah ketentuan Bank Indonesia (BI) yakni di kisaran 78%-92%. Meskipun keputusan itu akan dikenakan denda giro wajib minimum (GWM), bank itu menyebut pertimbangan menjaga likuiditas lebih penting.

"Bagi Bank Mega menjaga likuiditas itu, kita merasa jauh lebih penting. Terutama kalau terjadi krisis. Pengalaman kita kalau terjadi krisis itu uang yang ditarik customer itu sekitar 30% dari uang yang ada di bank. Oleh karena itu Bank Mega selalu menjaga policy likuiditas kita di itu," tegas Direktur Utama MEGA Kostaman Thayib saat ditemui di Auditorium Bank Mega, Selasa (31/3/2026).

Bank papan tengah milik CT Corp itu berupaya menjaga stabiltas likuiditas dengan mendorong pertumbuhan dana murah (low cost funding).

Sama halnya dengan PT Bank OCBC NISP Tbk. (NISP) yang mencatatkan LDR di level 70,4% sepanjang tahun 2025. Tingkat rasio tersebut turun lantaran pertumbuhan simpanan lebih tinggi. ketimbang pertumbuhan kredit.

Presiden Direktur OCBC Indonesia, Parwati Surjaudaja mengatakan tahun ini LDR bank milik OCBC asal Singapura itu sudah melebihi 70%. Namun demikian, ia memproyeksikan rasio tersebut akan tetap berada di level 80% untuk tahun 2026.

"Karena kami melihat dalam kondisi seperti saat ini maupun waktu 2025, kami sangat ingin memastikan bisa menjaga likuiditas dengan baik," kata Parwati saat konferensi pers RUPST OCBC Indonesia, Kamis (9/4/2026).

Ia merincikan bahwa dari rasio LDR OCBC Indonesia yang di kisaran 70% saat ini, pertumbuhan paling besar berasal dari CASA.

"Jadi low cost funding. Sehingga seperti terlihat juga dari profitabilitas dan lainnya masih tetap bisa terjaga dengan baik," tutur Parwati.

Terpisah, bank swasta lainnya, PT Bank CIMB Niaga Tbk. (BNGA) menyatakan bahwa saat ini kondisi likuiditasnya masih baik. Presiden Direktur CIMB Niaga Lani Darmawan mengatakan itu karena permintaan kredit lemah. Kendati, ia menyebut bank swasta terbesar kedua RI itu tetap akan mengejar pertumbuhan dana murah terutama dari nasabah non ritel.

"Saat ini likuiditas masih baik karena memang demand terhadap kredit juga lemah. Namun kami tetap fokus untuk CASA terutama dari segment non ritel," kata Lani saat dihubungi CNBC Indonesia, Rabu (1/4/2026).

CIMB Niaga tetap berniat untuk mengoptimalkan fungsi intermediasinya, dengan LDR dipatok sekitar 85%-90%.

(fsd/fsd) [Gambas:Video CNBC]
Next Article OJK Dorong Konsep Indonesia Incorporated Demi Geber Penyaluran Kredit


Most Popular
Features