MARKET DATA

Data HSC Bikin Harga Saham Terkoreksi, Ini Kata Pengamat

Mentari Puspadini,  CNBC Indonesia
07 April 2026 13:50
Suasana layar digital pergerakan harga saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (28/1/2026). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Foto: Suasana layar digital pergerakan harga saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (28/1/2026). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Keputusan untuk membuka data High Shareholding Concentration (HSC) atau konsentrasi kepemilikan saham tinggi dinilai memengaruhi beberapa pergerakan saham yang masuk dalam daftar tersebut.

Usai pengumuman daftar HSC pada Kamis, (2/4/2025), data perdagangan memperlihatkan bahwa tujuh saham yang masuk dalam daftar HSC mengalami tekanan jual. Sementara dua sisanya saja yang mengalami penguatan.

Sebagai gambaran, PT Satria Mega Kencana Tbk (SOTS) mencatatkan koreksi paling dalam sebesar 14,58%, diikuti oleh PT Rockfields Properti Indonesia Tbk (ROCK) yang turun 13,06%, dan PT Abadi Lestari Indonesia Tbk (RLCO) yang melemah 12,60%. Di sisi lain, hanya dua saham yang bergerak menguat, yaitu PT Ifishdeco Tbk (IFSH) sebesar 11,42% dan PT Lima Dua Lima Tiga Tbk (LUCY) sebesar 9,76%.

Pengamat Pasar Modal Universitas Indonesia Budi Frensidy mengatakan, data tersebut berpotensi memicu penurunan bobot saham di indeks global, seperti MSCI, hingga mendorong arus keluar dana asing.

Meski demikan, Budi menambahkan bahwa koreksi harga justru dapat menjadi peluang beli bagi investor yang percaya pada fundamental emiten. Menurutnya, kepemilikan besar oleh pemegang saham pengendali dapat menjadi faktor penopang stabilitas harga dalam jangka panjang.

"Begitu itu periode (koreksi) itu usai, balik lagi ke fundamental, apakah kita percaya ini orang-orang yang PSP-nya (Pemegang Saham Pengendali) yang menguasai mungkin 80 sekian persen dari saham emitennya itu? Kalau kita percaya, ya justru ya pada waktu terkoreksi itu waktunya untuk beli," kata Budi kepada CNBC Indonesia, Senin, (7/4/2026).

Lebih jauh, Budi menilai kebijakan baru BEI ini berisiko menekan kinerja indeks dan belum sepenuhnya mengakomodasi kepentingan emiten, terlebih data konsentrasi kepemilikan saham dinilai perlu dijelaskan sebagai bentuk transaparansi bursa.

Di sisi lain, Direktur PT Reliance Sekuritas Indonesia Tbk Reza Priyambada mengatakan daftar HSC pada dasarnya merupakan bentuk transparansi kepemilikan saham kepada publik. Namun demikian, investor tetap perlu mempertimbangkan kinerja, prospek, serta likuiditas saham sebelum mengambil keputusan investasi.

"Pelaku pasar akan lihat lagi seperti apa tanggapan dari para manajemen perusahaan tersebut apakah akan meningkatkan kepemilikan saham publiknya sehingga tidak masuk kembali dalam kriteria HSC tersebut," tutur Reza.

Sementara itu, Founder Republik Investor Hendra Wardana menilai pengumuman HSC memicu penyesuaian harga saham dalam jangka pendek. Saham dengan likuiditas semu dan kepemilikan terkonsentrasi cenderung mengalami tekanan seiring pergeseran menuju pasar yang lebih transparan.

"Dalam kondisi pasar seperti ini, strategi yang paling rasional adalah tidak panik, tetapi juga tidak terlalu agresif. Investor sebaiknya mulai melakukan akumulasi secara bertahap (buy on weakness), terutama pada saham-saham berfundamental kuat, likuiditas tinggi, free float besar, dan bukan termasuk kategori HSC," jelasnya.

Dari sisi teknikal, Hendra menilai, IHSG saat ini berada di area krusial setelah menembus level 7.000. Jika level 6.917 tidak mampu bertahan, indeks berpotensi turun ke kisaran 6.745, sementara penguatan membutuhkan penembusan area 7.300-7.350.

(fsd/fsd) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Harga Saham Terbang Tinggi, BEI Gembok Perdagangan PADA & IBFN


Most Popular
Features