MARKET DATA

MSCI Bisa Bikin Bobot Saham RI Turun Kelas, OJK-BEI Siapkan Ini

Romys Binekasri,  CNBC Indonesia
06 April 2026 11:23
MSCI
Foto: MSCI

Jakarta, CNBC Indonesia - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Bursa Efek Indonesia (BEI) selaku regulator pasar modal sedang menyiapkan strategi salam memitigasi penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akibat dari penyesuaian kebijakan dari Morgan Stanley Capital Indonesia (MSCI).

Diketahui, penyesuaian kebijakan MSCI dapat berpotensi membuat bobot saham-saham emiten Indonesia turun kelas karena aturan pemenuhan jumlah saham beredar di publik atau free float.

"BEI sedang siapkan mitgasi risk kalo indeks kita turun oleh MSCI," kata Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Hasan Fawzi, dalam konferensi pers secara virtual, Senin (6/4/2026).

Hasan memaparkan, sejak akhir Maret 2026 hingga awal April 2026, para regulator bursa Tanah Air termasuk OJK telah merampungkan implementasi dari seluruh proposal utama yang telah diajukan ke indeks global provider.

Upaya yang dilakukan sebagai bagian dari transparansi sektor pasar modal yang kredibel dan mengutamakan aspek perlindungan investor.

"Kami optimis bahwa langkah konkret yang dihadirkan akan perkuat kembali kepercayaan dari pemangku kepentingan, terhadap kualitas transparansi dari pasar modal kita," sebutnya.

Dalam hal ini, OJK telah menyiapkan langkah terukur, salah satunya, kebijakan free float menjadi 15% yang akan berjalan seiring dengan penguatan permintaan. Di sisi lain regulator pasar modal juga terus berkomunikasi secara intens dengan index global provider.

"Termasuk penyampaian progres ke evaluasi mereka selanjutnya, lalu kami akan pantau kondisi pasar rutin, untuk respon mengambil kebijakan tambahan secara profesional," imbuhnya.

Hasan meminta kepada para investor, jika terjadi penurunan bobot indeks tidak perlu direspon secara reaktif. Ia mengaku, reformasi pasar modal yang sedang dilakukan saat ini akan berdampak dalam jangka pendek.

"Ini mungkin ada penyesuaian portofolio yang dilakukan investor domestik atau global, ini bisa picu tekanan jual sementara waktu ada juga potensi outflow pada rebalancing, lalu ada volatilitas dan pelebaran bid ask spread pada saham-saham tertentu," ungkapnya.

Namun, kata Hasan, dinamika tersebut sebagai respons yang transisional dan sementara. Hal itu menjadi bagian dari progress yang tidak bisa dihindari. Fokus utama para regulator pasar modal adalah membangun fondasi integritas pasar yang transparan, kredibel dan pertumbuhan yang konsisten.

(ayh/ayh) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Kapitalisasi Pasar Saham RI Cetak Rekor, IHSG Naik 15,31%


Most Popular
Features