Harga Minyak Melonjak Tajam Usai Trump 'Ngamuk' ke Iran
Jakarta, CNBC Indonesia — Harga minyak dunia melonjak pada Minggu, (5/4/2026) setelah Presiden Donald Trump memberikan ultimatum kepada Iran untuk membuka Selat Hormuz sebelum Selasa atau menghadapi serangan terhadap fasilitas energinya. Minyak mentah AS menembus level US$114 per barel di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik tersebut.
Melansir CNBC, Senin (6/4/2026), minyak mentah AS tercatat naik 2,35% ke level US$114,16 per barel pada pukul 18:08 waktu setempat. Sementara itu, harga minyak acuan global Brent turut menguat 1,72% menjadi US$110,91 per barel.
Trump memperingatkan melalui unggahan media sosial bernada keras bahwa Iran akan "hidup dalam neraka" jika tidak membuka jalur tersebut. Ia juga mengancam akan membombardir pembangkit listrik dan jembatan di negara tersebut.
Tak lama setelah itu, Trump kembali mengunggah pesan singkat bertuliskan "Tuesday, 8:00 P.M. Eastern Time!" tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut. Pernyataan ini semakin memicu spekulasi pasar terkait potensi eskalasi konflik dalam waktu dekat.
Iran diketahui telah menutup Selat Hormuz secara efektif melalui serangan terhadap kapal tanker minyak. Jalur laut ini merupakan penghubung utama antara Teluk Persia dan pasar global, dengan sekitar 20% pasokan minyak dunia sebelumnya melewati kawasan tersebut.
Penutupan Selat Hormuz telah memicu gangguan pasokan minyak terbesar dalam sejarah. Harga minyak mentah, bahan bakar jet, diesel, dan bensin melonjak tajam sejak konflik dimulai.
Dalam pidato nasional pekan lalu, Trump menyebut konflik ini kemungkinan akan berlangsung selama dua hingga tiga pekan. Hal ini menambah kekhawatiran pasar terhadap tekanan pasokan energi global yang berkepanjangan.
Menurut laporan TD Securities, hampir 1 miliar barel pasokan minyak akan hilang hingga akhir bulan ini. Angka tersebut terdiri dari sekitar 600 juta barel minyak mentah dan 350 juta barel produk olahan.
Analis senior komoditas TD Securities, Ryan McKay, mengatakan prospek pasokan semakin memburuk seiring konflik diperkirakan berlangsung hingga April. Ia menyebut perhitungan pasokan minyak global kini menjadi semakin suram.
Sementara itu, Rapidan Energy memperkirakan total kehilangan bersih pasokan minyak dan produk energi mencapai 630 juta barel hingga akhir Juni. Perhitungan ini telah mempertimbangkan pengalihan aliran melalui pipa, pelepasan cadangan darurat, serta penarikan inventori.
Di sisi lain, delapan negara anggota OPEC+ sepakat meningkatkan produksi sebesar 206.000 barel per hari pada Mei. Namun, belum jelas bagaimana tambahan pasokan tersebut dapat masuk ke pasar global selama Selat Hormuz masih ditutup.
Kuwait Petroleum Corporation melaporkan sejumlah fasilitas operasionalnya diserang drone dan mengalami kerusakan signifikan. Serangan ini semakin memperburuk kondisi infrastruktur energi di kawasan tersebut.
OPEC+ juga memperingatkan bahwa perbaikan infrastruktur energi yang rusak akibat serangan Iran membutuhkan biaya besar dan waktu yang lama. Hal ini berpotensi mengganggu ketersediaan pasokan energi global dalam jangka lebih panjang.
(mkh/mkh) [Gambas:Video CNBC]